Gunung Semeru Gugurkan Material Pijar, Warga Masih Tenang

Reporter:
Editor:

Kukuh S. Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gunung Semeru mengeluarkan asap yang terlihat dari Penanjakan Dua di Probolinggo, Jawa Timur, 19 Agustus 2017. ANTARA FOTO

    Gunung Semeru mengeluarkan asap yang terlihat dari Penanjakan Dua di Probolinggo, Jawa Timur, 19 Agustus 2017. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Lumajang - Masyarakat di sekitar kaki Gunung Semeru mengaku kerap melihat guguran material pijar dari kawah gunung api tersebut. Dalam keadaan cuaca cerah pada malam hari, guguran tersebut tampak jelas memancarkan sinar kemerahan.

    Karno, warga Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, menuturkan, dalam satu minggu gunung tersebut bisa beberapa kali menggugurkan material pijar. "Tak jarang guguran tersebut hingga ke bawah (kaki Gunung Semeru)," katanya, Rabu, 13 Desember 2017.

    Baca: BMKG: Gempa Bumi Guncang Warga Sekitar Gunung Semeru

    Menurut Karno, warga masih cukup tenang karena jatuhnya guguran material pijar itu jauh dari permukiman penduduk. Material pijar itu diperkirakan gugur di Besuk Bang atau Besuk Kembar, yang merupakan jalan aliran material kawah Gunung Semeru. "Warga masih tenang-tenang saja seperti hari-hari biasa sembari terus mengamati tanda-tanda alam sekitarnya," ujarnya.

    Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Lumajang Wawan Hadi mengatakan status aktivitas Gunung Semeru masih di level waspada. "Aktivitas vulkaniknya juga fluktuatif, naik-turun, dan ini normal untuk Gunung Semeru," ucapnya.

    Simak: Peserta Lomba Lari Trail Bromo Tengger Semeru Ultra 100 Meninggal

    Wawan berujar letusan-letusan asap biasa terjadi di Gunung Semeru. Meski demikian, warga diminta tetap waspada. Pendakian Semeru juga direkomendasikan hanya sampai Pos Kalimati.

    Data aktivitas vulkanik Gunung Semeru dalam tiga bulan terakhir menunjukkan perubahan-perubahan, seperti terdeteksinya gempa vulkanik dalam dan dangkal serta tremor harmonik, terutama dalam satu bulan terakhir. Jumlah letusan juga cenderung menurun.

    Lihat: Badai Landa Puncak Semeru, Pendaki Berhamburan Turun ke Kalimati

    Data kegempaan terakhir yang diperoleh Tempo pada Senin, 11 Desember 2017, menunjukkan hanya terjadi delapan kali gempa letusan dan 11 kali embusan serta 1 kali vulkanik dalam. Padahal biasanya gempa letusan bisa terjadi lebih dari 40-100 kali setiap hari.

    DAVID PRIYASIDHARTA


     

     

    Lihat Juga