Cerita Akbar Soal Undangan Tutut dan Pertemuan Golkar di Cendana

Reporter:
Editor:

Widiarsi Agustina

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tommy Soeharto (kanan) berbincang dengan Ketua Dewan Pembina DPP Partai Golkar Akbar Tandjung saat kampanye calon ketua umum jelang Musyawarah Nasional Luar Biasa (munaslub) Partai Golkar di Nusa Dua, Bali, 13 Mei 2016. TEMPO/Johannes P. Christo

    Tommy Soeharto (kanan) berbincang dengan Ketua Dewan Pembina DPP Partai Golkar Akbar Tandjung saat kampanye calon ketua umum jelang Musyawarah Nasional Luar Biasa (munaslub) Partai Golkar di Nusa Dua, Bali, 13 Mei 2016. TEMPO/Johannes P. Christo

    JAKARTA -- Akbar Tandjung bercerita soal pertemuan sejumlah tokoh Partai Golkar di kediaman mantan Presiden Soeharto, Sabtu 9 Desember 2017 malam lalu. Wakil Ketua Dewan Kehormatan Partai Golkar itu menyebut, pertemuan dilakukan setelah ada undangan dari Siti Hardijanti Rukmana alias Tutut Soeharto.

    " Pertemuan di Cendana itu memang kami diundang oleh Mbak Tutut, untuk bicara Golkar dan kontribusi keluarga Soeharto untuk nasib Partai" kata Akbar Tandjung saat ditemui di Jakarta, Minggu 10 Desember 2017.

    Pertemuan sesepuh Golkar itu digelar di kediaman Soeharto di jalan Cendana 6-8 Jakarta Pusat. Informasi yang diterima Tempo, setidaknya ada 23 sesepuh Golkar yang diundang Tutut, putri sulung Soeharto yang juga kakak Siti Hediyati Hariyadi atau Titiek Soeharto.

    BACA:Akbar Tandjung Ogah Bicara Kans Titiek Soeharto Hadapi Airlangga

    Tutut dan Titiek, Bambang juga Tommy, dulunya adalah pengurus pusat Golkar yang aktif di partai saat Soeharto menjadi Presiden selama 32 tahun. Beberapa dari mereka mulai tak aktif setelah Soeharto yang juga Ketua Dewan Pembina Golkar, lengser dari Presiden 21 Mei 1998.

    Mereka yang hadir dalam pertemuan itu diantaranya Jenderal (Purn) TNI Try Sutrisno, Emil Salim, Cosmas Batubara, Subiakto Tjakrawerdaya, Abdul Gafur, Oetojo Oesman, Akbar Tandjung, Haryono Suyono, Indra Kartasasmita, Subagyo, dan Sulastomo.

    Menurut Akbar Tandjung, dalam pertemuan tersebut, keluarga Cendana menyampaikan ketertarikannya untuk memperkuat partai Golkar pasca penetapan Ketua Umum Setya Novanto sebagai tersangka korupsi proyek e-KTP. "Keluarga putri Pak Harto menyampaikan bahwa mereka terpanggil memperkuat partai Golkar dalam menghadapi agenda politik ke depan," ujarnya.

    Akbar menyebut pihak keluarga Cendana menyetujui rencana untuk memajukan Titiek sebagai calon ketua umum. Akbar pun menjelaskan kondisi partai yang digadang-gadang memiliki calon ketua umum yang telah mengantongi lebih dari separuh dukungan pengurus daerah, Airlangga Hartarto.

    BACA:Titiek Soeharto Soal Munaslub dan Golkar Bebas Label Korupsi

    Meski begitu, Akbar meyakini dinamika di partai politik berlambang pohon beringin masih membuka kemunculan calon ketua umum lain. "Kalau ini terus sampai ke Munas, tentu Airlangga akan menjadi ketua umum karena enggak ada lawan," ujar Akbar Tandjung.

    Kursi kepemimpinan partai penguasa Orde Baru ramai dibicarakan setelah Setya Novanto saat ini ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Setya dianggap mengatur proses pengadaan kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP) yang berujung pada kerugian negara sebesar Rp 2,3 triliun. Banyak pihak mendesak agar dipilih Ketua Golkar yang baru setelah Setya ditahan KPK.

    Titiek pun menyatakan niatnya untuk mengisi posisi Setya belum pasti akan maju atau dimajukan sebagai calon Ketua Umum Golkar. Namun dia setuju baik Golkar maupun DPR harus segera memiliki ketua definitif. Ia pun mendorong agar segera digelar munaslub untuk segera mencari pengganti Setya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Imam Nahrawi dan Para Menteri di Pusaran Korupsi

    KPK menetapkan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi sebagai tersangka. Artinya, dua menteri kabinet Presiden Joko Widodo terjerat kasus korupsi.