Minggu, 18 Februari 2018

Antisipasi Penyebaran Difteri, Beberapa Daerah Lakukan Imunisasi

Reporter:

Agoeng Wijaya

Editor:

Rina Widiastuti

Jumat, 8 Desember 2017 07:01 WIB
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Antisipasi Penyebaran Difteri, Beberapa Daerah Lakukan Imunisasi

    Ekspresi kesakitan seorang siswa saat mengikuti suntik imunisasi Difteri Tetanus (DT) dan Tetanus difteri (Td) di Sekolah Dasar Negeri (SDN) II Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur, 8 Oktober 2015. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Dinas Kesehatan Jawa Barat akan memprioritaskan daerah perbatasan dengan wilayah DKI Jakarta untuk dilakukan imunisasi difteri. “Sasarannya sekitar 3.629.178 orang yang tersebar di lima kabupaten atau kota,” kata Kepala Seksi Surveilan dan Pencegahan Penyakit Dinas Kesehatan Jawa Barat, Yus Ruseno, kepada Tempo, Kamis, 7 Desember 2017.

    Lima daerah tersebut meliputi Kabupaten Bekasi, Kota Bekasi, Kota Depok, Karawang, dan Purwakarta. Yus mengatakan pelaksanaan imunisasi akan dimulai pada Senin pekan depan. “Kami masih menunggu drop vaksin dan jarum suntik,” ujarnya.

    Baca: Kemenkes: 66 Persen Kasus Difteri Karena Pasien Tak Diimunisasi

    Difteri merupakan penyakit menular yang disebabkan kuman Corynebacterium diptheriae. Kuman menyerang saluran pernapasan hingga bisa menyebabkan kematian. Hingga bulan lalu, sebelas provinsi telah menyatakan penyebaran kuman difteri sebagai kejadian luar biasa, yaitu Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, dan Riau.

    Status kejadian luar biasa diberlakukan setelah jumlah kasusnya meningkat tajam. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, hingga November 2017, kasus difteri dilaporkan terjadi di 95 kabupaten dan kota yang tersebar di 20 provinsi. Sedikitnya 38 orang meninggal dari 590 kasus yang ditemukan. Kementerian Kesehatan telah mengimbau masyarakat agar mengikutsertakan anak-anak mereka dalam program imunisasi difteri.

    Imunisasi difteri diberikan melalui imunisasi dasar pada bayi di bawah 1 tahun sebanyak tiga dosis vaksin DPT-HB-Hib. Selanjutnya, imunisasi lanjutan (booster) diperlukan, berupa satu dosis vaksin DPT-HB-Hib terhadap anak berumur 18 bulan; vaksin DT bagi anak kelas I sekolah dasar; serta satu dosis vaksin TD pada murid kelas II yang diulang ketika anak duduk di kelas V.

    Baca: KLB Difteri, Jawa Barat Prioritaskan Imunisasi di Perbatasan DKI

    Menurut Yus, imunisasi mulai pekan depan hanya ditujukan kepada warga yang berusia kurang dari 19 tahun karena keterbatasan anggaran. Itu pun dilakukan secara bertahap di posyandu, sekolah, dan puskesmas. “Kami juga baru diinformasikan kemarin. Masalahnya enggak ada dana karena ini dilaksanakan pada akhir tahun,” kata Yus. Menurut dia, hingga kini sedikitnya 18 kabupaten dan kota di Jawa Barat juga telah menyatakan difteri sebagai kejadian luar biasa setelah muncul 125 kasus yang menyebabkan 13 orang meninggal.

    Pemerintah Kota Bekasi menyiapkan data potensi sasaran imunisasi massal untuk mencegah kasus difteri di wilayah mereka. Sasaran imunisasi diperkirakan mencapai 700-800 ribu orang rentang usia 0-19 tahun. “Ketersediaan logistik yang menanggung adalah Kementerian Kesehatan,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinas Kesehatan Kota Bekasi, Dezi Syukrawati, kepada Tempo, Kamis, 7 Desember 2017. Imunisasi massal juga akan dilakukan di sejumlah kabupaten dan kota yang kini telah berstatus KLB difteri.

    AHMAD FIKRI | ADI WARSONO | JONIANSYAH HARDJONO | IRSYAN HASYIM


     

     

    Selengkapnya
    Grafis

    Kekuatan Bom Nuklir Korea Utara versus Amerika dan Rusia

    Sejak 2006 Korea Utara meluncurkan serangkaian tes senjata nuklir yang membuat dunia heboh. Tapi, sebenarnya seberapa kuat bom mereka? Ini faktanya.