Alasan Najwa Shihab Dukung Konser Penggalangan Dana Omah Munir

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presenter Najwa Shihab membacakan penutup konser Penggalangan dana Museum Hak Asasi Manasia Omah Munir bertajuk Menyalakan Kemanusiaan di Auditorium Perpustakaan Nasional,  Jakarta, 05 Desember 2017. TEMPO/Nurdiansah

    Presenter Najwa Shihab membacakan penutup konser Penggalangan dana Museum Hak Asasi Manasia Omah Munir bertajuk Menyalakan Kemanusiaan di Auditorium Perpustakaan Nasional, Jakarta, 05 Desember 2017. TEMPO/Nurdiansah

    TEMPO.CO, Jakarta - Jurnalis senior Najwa Shihab menjadi pemandu konser penggalangan dana revitalisasi Museum Hak Asasi Manusia Omah Munir yang digelar di Perpustakaan Nasional RI, Jakarta, Selasa malam, 5 Desember 2017. Kegiatan yang digagas oleh Perkumpulan Omah Munir itu bertujuan mengundang partisipasi publik dalam membangun ulang bangunan Museum HAM Omah Munir.

    Acara itu dimulai pada pukul 19.00. Beberapa penyanyi yang mengisi acara itu adalah Glenn Fredly, Tompi, Dira Sugandi, serta musikus jazz Idang Rasjidi. Tak seperti biasa, para bintang ini menyanyi berdasarkan permintaan penonton dengan sistem lelang. Sepanjang pertunjukan, harga terendah yang ditawar penonton untuk satu lagu adalah Rp 2 juta. Sementara itu, harga lagu tertinggi adalah Rp 20 juta.

    Baca: Konser Penggalangan Dana Omah Munir Dapat Rp 900 Juta

    Total uang yang diperoleh dari penggalangan dana itu adalah Rp 900 juta. Seluruh saweran itu diserahkan untuk pembangunan museum

    Najwa mengungkapkan alasannya mendukung acara tersebut. Menurut dia, kehadiran Omah Munir sangat penting untuk mengajari generasi muda mengenai hak asasi manusia. "Sudah saatnya yang muda menyalakan pemahaman," katanya, Selasa, 5 Desember 2017.

    Sejumlah musisi tampil dalam Konser Penggalangan dana Museum Hak Asasi Manusia Omah Munir di Auditorium Perpustakaan Nasional, Jakarta, 5 Desember 2017. Konser tersebut dimeriahkan oleh sejumlah musisi Glenn Fredly, Tompi dan Dira Sugandi serta pembacaan puisi oleh Butet Kartaredjasa. TEMPO/Nurdiansah

    Omah Munir, yang didirikan pada 8 Desember 2013, didedikasikan sebagai memorabilia perjalanan penegakan HAM di Indonesia. Museum itu dibangun di rumah (almarhum) Munir Said Thalib, aktivis pembela HAM yang meninggal dalam penerbangan rute Jakarta-Amsterdam pada 9 September 2004.

    Bangunan seluas 200 meter persegi itu rencananya diperluas hingga 400 meter persegi dan menjadi dua tingkat. Selain memperluas gedung, hasil penggalangan dana akan digunakan untuk membangun perpustakaan yang bisa dimanfaatkan untuk penelitian, pembuatan kurikulum hak asasi manusia untuk anak SD dan SMP, serta membangun ruang berdiskusi.

    Baca: 13 Tahun Munir, Aktivis Desak Jokowi Buka Hasil Investigasi TPF

    Anggota Badan Pengurus Perkumpulan Omah Munir, Mufti Makaarim menjelaskan bahwa rekaman perjalanan penegakan HAM di Indonesia yang disajikan di Museum HAM Omah Munir tak hanya menampilkan perjuangan dan pembelaan Munir atas berbagai pelanggaran HAM yang terjadi, tapi juga menjelaskan berbagai upaya serta tantangan penegakan HAM yang dihadapi para survivor, keluarga korban, aktivis, maupun organisasi sampai dengan saat ini.

    "Museum ini bisa menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pemenuhan, perlindungan, dan penghormatan HAM," kata Mufti.

    Menurut dia, saat ini kondisi fisik museum masih belum teratur. Barang-barang yang tersimpan di dalamnya masih bercampur menjadi satu. Di dalam rumah itu terdapat berbagai barang peninggalan, seperti foto-foto Munir, sepatu, rompi anti-peluru, jaket kulit, dan buku. Poster tentang orang hilang korban pelanggaran HAM juga memenuhi sudut ruangan.

    Infografis: 13 Tahun Kasus Munir dalam Tiga Era Presiden


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tujuh Poin Revisi UU KPK yang Disahkan DPR

    Tempo mencatat tujuh poin yang disepakati dalam rapat Revisi Undang-undang Nomor 30 tahun 2002 atau Revisi UU KPK pada 17 September 2019.