Warga Penolak Bandara Kulon Progo Bentrok dengan Polisi

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana tegang dan nyaris ricuh antara polisi dan warga saat pembersihan lahan untuk bandara Kulonprogo, Yogyakarta. HAND WAHYU

    Suasana tegang dan nyaris ricuh antara polisi dan warga saat pembersihan lahan untuk bandara Kulonprogo, Yogyakarta. HAND WAHYU

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Sejumlah warga penolak pembangunan Bandara Kulon Progo di Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo, bentrok dengan aparat kepolisian setempat saat eksekusi pengosongan lahan area bandara baru, Selasa, 5 Desember 2017. Bentrokan tak terhindarkan ketika ratusan personel dari kepolisian Kabupaten Kulon Progo, yang mengawal alat berat untuk pengosongan lahan bandara, dihadang warga penolak dan relawan yang tergabung dalam Paguyuban Warga Penolak Penggusuran Kulon Progo (PWPP-KP).

    Belasan warga dan relawan ditangkap dan digelandang polisi karena dianggap menghalangi pengosongan lahan. Sebelumnya, pengosongan lahan didahului dengan aksi penggusuran rumah warga yang nekat bertahan di wilayah Temon oleh pihak PT Angkasa Pura I pada Senin, 4 Desember 2017. "Ya, benar (sejumlah warga dan relawan ditangkap kepolisian)," ujar Nur Wijiyanto, warga terdampak yang menolak pembangunan bandara sekaligus pengurus Paguyuban Warga Penolak Penggusuran-Kulonprogo (PWPP-KP).

    Baca juga: Soal Pengosongan Lahan Bandara Kulon Progo, Ini Kata Sultan

    Nur menuturkan, sekitar pukul 10.15, aparat kepolisian mulai berdatangan ke rumah warga. Mereka meminta seluruh jaringan solidaritas yang tidak berizin keluar dari rumah yang menjadi markas paguyuban penolak bandara. Para penolak dan relawan dituding melakukan provokasi menolak pembangunan bandara.

    Lalu pada pukul 10.20 polisi datang lagi bersama aparat desa meminta identitas warga dan jaringan solidaritas. Mereka mendapat perlawanan warga. Alat berat pun mulai bergerak menghancurkan rumah yang masih berdiri, terutama rumah yang menjadi markas warga penolak bandara.

    Akhirnya, terjadi bentrok dan dorong-dorongan antara warga dan aparat. Seorang warga yang masih bertahan menolak rumahnya dikosongkan, Hermanto, terluka di bagian kepala akibat bentrok itu.

    Sebanyak 12 warga dan relawan jaringan solidaritas petani penolak bandara pun ditangkap dan dibawa ke Polres Kulon Progo. Kepala Kepolisian Resor Kulon Progo Ajun Komisaris Besar Irfan Rifai membantah pihaknya telah menangkap dan menahan belasan warga dan relawan penolak bandara dalam bentrok itu. "Bukan ditangkap dan ditahan, ya, tapi kami amankan karena mereka menghalang-halangi proses pengosongan lahan," ujarnya kepada Tempo.

    Irfan menuturkan lahan Bandara Kulon Progo yang dikosongkan itu milik PT Angkasa Pura I yang sudah dibebaskan. Hingga saat ini, aparat dan pihak PT Angkasa Pura I sudah mengosongkan lahan bandara itu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.