Sketsa Penyerang Novel Baswedan Disebar, Polisi Dapat 290 Telepon

Reporter:
Editor:

Suseno

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kapolda Metro Jaya Irjen Idham Azis, menunjukkan sketsa terduga pelaku penyiraman air keras kepada penyidik KPK Novel Baswedan, di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, Jakarta, 24 November 2017. TEMPO/Imam Sukamto

    Kapolda Metro Jaya Irjen Idham Azis, menunjukkan sketsa terduga pelaku penyiraman air keras kepada penyidik KPK Novel Baswedan, di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, Jakarta, 24 November 2017. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Polisi telah merilis sketsa wajah orang yang diduga menyiram Novel Baswedan menggunakan air keras. Bersama sketsa wajah itu, polisi menyertakan nomor telepon agar masyarakat bisa memberikan informasi. "Sudah 290 telepon masuk," kata juru bicara Kepolisian Daerah Metro Jaya, Komisaris Besar Raden Prabowo Argo Yuwono, Ahad, 26 November 2017.

    Sejauh ini, kata Argo, penyebaran sketsa belum membawa hasil. Belum ada satu informasikan pun tentang keberadaan orang-orang yang dicurigai sebagai pelaku penyerangan. “Kebanyakan hanya ingin memastikan kontak polisi tersebut dapat dihubungi atau tidak,” katanya. "Ada juga yang menawarkan jasa paranormal."

    Baca: Kapolda: Penyidik KPK Bisa Ikut Usut Penyerang Novel Baswedan

    Sketsa orang yang diduga penyerang Novel itu dibuat oleh Pusat Indonesia Automatic Fingerprint Identification System (Pusinafis) Polri dengan Australian Federal Police. Visual terduga pelaku diperoleh dari sejumlah rekaman closed-circuit television (CCTV) di tempat kejadian. Penyidik juga telah memeriksa 66 saksi untuk melengkapi keterangan.

    Penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan terjadi pada 11 April 2017. Pelakunya dua orang berboncengan sepeda motor. Penyerangan dilakukan setelah penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi itu salat subuh di Masjid Al-Ikhsan, dekat rumahnya di Kelapa Gading, Jakarta Utara.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.