Minggu, 22 September 2019

Ketua KPK: Pembentukan TGPF Novel Baswedan Belum Diperlukan

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua KPK Agus Rahardjo (kiri) bersama Kapolda Metro Jaya Irjen Idham Azis (kanan) menunjukkan sketsa terduga pelaku penyiraman air keras kepada penyidik KPK Novel Baswedan dalam sesi konferensi pers di Jakarta, 24 November 2017. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

    Ketua KPK Agus Rahardjo (kiri) bersama Kapolda Metro Jaya Irjen Idham Azis (kanan) menunjukkan sketsa terduga pelaku penyiraman air keras kepada penyidik KPK Novel Baswedan dalam sesi konferensi pers di Jakarta, 24 November 2017. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Agus Rahardjo mengatakan belum terlalu diperlukan adanya tim gabungan pencari fakta (TGPF) dalam mengusut kasus Novel Baswedan. Hal itu, menurut dia, karena penyelidikan yang dilakukan Kepolisian Daerah Metro Jaya telah mengalami perkembangan.

    "Belum waktunya kalau kami melihat itu, melihat keseriusan teman-teman Polri dan sudah ada beberapa perkembangan," ucap Agus di gedung KPK, Jakarta, Jumat, 24 November 2017.

    Baca juga: Sketsa Terduga Penyerang Novel Baswedan, Kapolda: Mirip 90 Persen

    Agus berharap pihak-pihak yang meragukan penyelidikan yang dilakukan Kepolisian RI dapat memahami. "Langkah ini, kalau dijelaskan kepada beberapa prominent person, semoga bisa dipahami apa yang telah dilakukan," ujar Agus. Ia juga menuturkan akan terus melakukan komunikasi dengan kepolisian untuk mengusut kasus Novel.

    Sebelumnya, Kepala Polda Metro Jaya Inspektur Jenderal Idham Azis mengungkapkan dua sketsa terduga pelaku penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK, Novel Baswedan. Menurut Idham, sketsa tersebut berhasil dibuat setelah melakukan rangkaian pemeriksaan terhadap 66 saksi.

    "Kesaksian beberapa saksi itu mengerucut pada dua orang yang diduga sebagai pelaku penyerangan terhadap korban," kata Idham di gedung KPK, Jakarta, Jumat, 24 November 2017.

    Baca juga: Kapolri Laporkan Kasus Novel Baswedan ke Jokowi Pekan Ini

    Idham berujar, detail sketsa tersebut diperoleh dari dua saksi dengan inisial S dan SN. Selain itu, hasil temuan ini berkat kerja sama Pusat Indonesia Automatic Fingerprint Identification System (Pusnafis) Polri dengan Australian Federal Police dalam menyelidiki sejumlah CCTV di tempat kejadian perkara. Karena itu, Idham mengimbau agar masyarakat menghubungi hotline Polda Metro Jaya jika menemukan informasi lebih lanjut terkait dengan dua orang dalam sketsa tersebut.

    Penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan terjadi pada 11 April 2017. Ia diserang menggunakan air keras oleh dua orang tak dikenal setelah melaksanakan salat subuh di Masjid Al-Ikhsan yang lokasinya dekat rumahnya di Kelapa Gading, Jakarta Utara.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.