Kecewa, Petinggi PDIP Mengenang Saat Mesra dengan Emil Dardak

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa (kanan) dan Bupati Trenggalek Emil Dardak memberi sambutan usai mendapat  surat keputusan di DPP Golkar, Jakarta, 22 November 2017. Dengan dukungan dua partai ini, Khofifah dan Emil sudah dapat mendaftar sebagai pasangan calon gubernur dan wakil gubernur. Tempo/Fakhri Hermansyah

    Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa (kanan) dan Bupati Trenggalek Emil Dardak memberi sambutan usai mendapat surat keputusan di DPP Golkar, Jakarta, 22 November 2017. Dengan dukungan dua partai ini, Khofifah dan Emil sudah dapat mendaftar sebagai pasangan calon gubernur dan wakil gubernur. Tempo/Fakhri Hermansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Dewan Kehormatan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Komarudin Watubun mengenang saat-saat “mesranya” dengan Bupati Trenggalek Emil Elestianto Dardak saat baru bergabung sebagai kader PDIP. Emil pernah menjadi “murid” Komarudin di sekolah kepala daerah yang diselenggarakan PDIP.

    "Saya lihat (dia) ini kader muda yang berpotensi,” kata Komarudin di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis, 24 November 2017. Menurut dia, menjadi pemimpin tidak harus bermodal kecerdasan, tapi juga harus punya prinsip yang teguh.

    Baca: Dampingi Khofifah, Emil Dardak Akan Dipecat PDIP

    Menurut Komarudin, Emil memiliki kartu tanda anggota (KTA) PDIP dan menjadi kader karena proses pendidikan itu. Bila ia resmi mendaftar di Komisi Pemilihan Umum untuk maju dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) Jawa Timur, PDIP bakal memecatnya.

    "Kan, tidak mungkin satu orang punya dua KTA. Kalau PDIP, ya PDIP.” Jika Emil memiliki kartu tanda anggota partai lain, ia harus keluar dari PDIP. “Ya, kami harus pecat (dia)."

    Dalam pilkada Jawa Timur, PDIP resmi mengusung Saifullah Yusuf-Azwar Anas sebagai calon gubernur-wakil gubernur. Komarudin menjelaskan, semua kader PDIP seharusnya ikut mendukung Saifullah dan Anas.

    Baca juga: PDIP Nilai Emil Dardak Tidak Berprestasi Pimpin Trenggalek

    Komarudin menuturkan menjadi kader suatu partai harus atas dasar kesadaran sendiri. Ia menyayangkan Emil yang tiba-tiba maju sebagai calon Wakil Gubernur Jawa Timur dari partai lain. "Ini soal moral. Banyak kader yang dianggap bagus tapi lompat pagar."

    Soal pecat-memecat keanggotaan itu, tutur Komarudin, ukurannya adalah etika politik. Emil dinilai telah melanggar etika politik karena menerima kartu tanda anggota partai lain.

    Khofifah dan Emil resmi menerima surat keputusan pencalonan dari Partai Demokrat dan Partai Golongan Karya pada Rabu, 22 November 2017. Khofifah dan Emil juga mengantongi dukungan dari Partai NasDem, Partai Persatuan Pembangunan, dan Partai Hati Nurani Rakyat.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.