Jenderal Gatot Naikkan Pangkat 58 Prajurit yang Berjasa di Papua

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo (tengah) saat mengunjungi Yonkav 7 Sersus Cijantung Jakarta, Selasa, 31 Oktober 2017. Tempo/Syafiul Hadi

    Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo (tengah) saat mengunjungi Yonkav 7 Sersus Cijantung Jakarta, Selasa, 31 Oktober 2017. Tempo/Syafiul Hadi

    TEMPO.CO, Timika - Panglima Tentara Nasional Indonesia Jenderal Gatot Nurmantyo memberikan penghargaan kepada 58 prajurit TNI yang terlibat dalam pembebasan sandera di Desa Banti dan Kimbely, Tembagapura, Mimika, Papua. Para prajurit itu mendapat kenaikan pangkat luar biasa.

    Pada Jumat, 17 November 2017, tim gabungan TNI dan Polri berhasil membebaskan sekitar 344 warga sipil dari penyanderaan kelompok bersenjata. "Gerakan separatis ini sudah melakukan pembunuhan, kemudian melakukan penyanderaan. Penyanderaan itu bukan disekap dalam satu ruangan, melainkan di suatu lokasi dan membuat mereka tidak bisa ke mana-mana, tidak mendapat layanan apa pun, pendidikan, kesehatan, dan lainnya," kata Gatot pada Ahad, 19 November 2017.

    Baca: Usai Bebaskan Sandera, TNI-Polri Masih Siaga di Mimika Papua

    Gatot memberikan kenaikan pangkat kepada para prajurit yang berasal dari kesatuan Batalyon Infanteri 751 Rider Jayapura, Komando Pasukan Khusus (Kopassus), dan Peleton Intai Tempur (Tontaipur) Kostrad tersebut. Upacara penganugerahan kenaikan pangkat luar biasa kepada puluhan prajurit TNI itu berlangsung di Kampung Utikini Lama, Distrik Tembagapura.

    Pemberian kenaikan pangkat luar biasa itu, kata Gatot, sedianya dilaksanakan di Desa Kimbely atau Banti. Namun rencana itu dibatalkan lantaran akses jalan ke dua kampung itu dalam kondisi rusak berat lantaran dirusak kelompok bersenjata, beberapa waktu lalu.

    Baca: Polda Papua Imbau 21 DPO Kelompok Bersenjata Menyerahkan Diri

    Dalam kesempatan itu, Gatot mengungkapkan penderitaan yang dialami warga yang diisolasi oleh kelompok bersenjata sehingga sulit memenuhi kebutuhannya. "Para sandera juga terintimidasi, bahkan 12 wanita dilaporkan mengalami kekerasan seksual," ujarnya. Sebagian warga sipil juga mengaku dijarah dan dirampas harta bendanya.

    Gatot mengatakan tindakan tersebut tidak bisa dibiarkan terus berlangsung sehingga, negara melalui aparat TNI dan Polri harus hadir untuk menyelamatkan masyarakat sipil. "Urgensinya, karena penyanderaan sudah dilakukan sejak 1 November dan semakin hari kesehatan para sandera semakin menurun, kelaparan karena persediaan logistik mereka sudah mulai habis, harus segera diambil tindakan tegas," tutur Gatot.

    Meski sandera sudah dibebaskan, kelompok bersenjata yang telah menyandera dan menyerang warga serta aparat belum dapat ditangkap. Kelompok itu dikabarkan telah lari ke arah gunung dan hutan di Tembagapura, Papua.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Palapa Ring Akan Rampung Setelah 14 Tahun

    Dicetuskan pada 2005, pembangunan serat optik Palapa Ring baru dimulai pada 2016.