Tak ada Amien Saat Milad Bicara Muhammadiyah Sebagai Pemersatu

Reporter:
Editor:

Widiarsi Agustina

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo berbincang dengan Ketua Umum Muhammadiyah Haedar Nashir di Jalan Menteng Raya, Jakarta Pusat, 8 November 2016. TEMPO/Subekti

    Presiden Joko Widodo berbincang dengan Ketua Umum Muhammadiyah Haedar Nashir di Jalan Menteng Raya, Jakarta Pusat, 8 November 2016. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, YOGYAKARTA --- Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir bicara penting di perayaan Milad 105 Muhammadiyah di Keraton, Jumat 17 November 2017. Sayangnya, pidato Haedar Nashir soal bagaimana warga Muhammadiyah menjadi kekuatan pemersatu yang mengayomi, memoderasi, dan menguatkan kebersamaan seluruh warga bangsa tak dihadiri sejumlah tokoh penting, termasuk mantan Ketua Umum Amien Rais.

    Dalam pidatonya, Haedar Nasir mengutip pernyataan Presiden Joko Widodo ketika membuka Milad Muhammadyah ke 105 yang digelar di Pagelaran Keraton Yogyakarta, Jumat petang 17 November 2017. "'Mayoritas melindungi minoritas, dan minoritas menghargai mayoritas' begitu ujar presiden Joko Widodo," ujar Haedar dihadapan ribuan peserta milad.

    BACA:Milad Muhammadiyah Kali Ini di Keraton, Penuh Aneka Tradisi

    Haedar juga mengingatkan, umat Islam khususnya warga Muhammadyah wajib menjadi kekuatan pemersatu yang mengayomi, memodernisasi, dan menguatkan kebersamaan di tengah kemajemukan bangsa Indonesia. "Ketika ada retak sesama anak bangsa harus menjadi golongan yang mendamaikan dan memberi solusi," kata Haedar di Pagelaran Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Jumat malam.

    Amien Rais (kanan) bersama Ahmad Watik Pratiknya saat menghadiri Muktamar Muhammdiyah ke-42 di Yogyakarta, 1990. Dok. TEMPO/Hari WahyudiMenurut Haedar, warga dan keluarga besar Muhammadiyah perlu terus belajar pada jiwa kenegarawanan para tokoh Muhammadiyah sejak Kiyai Ahmad Dahlan hingga generasi sesudahnya dalam memupuk kebersamaan dan cinta bangsa.

    "Jangan sampai kita bicara indah tentang ukhuwah kebangsaan, tetapi hasrat 'ananiyah-hizbiyah' jauh lebih besar ketimbang pengorbanan untuk hajat hidup bangsa secara keseluruhan karena yang dipikirkan hanya kepentingan golongan sendiri," kata dia.

    Baca: Milad Ke-108 Hijriah, Muhammadiyah Ajak Jaga Persatuan

    Ia menceritakan, saat Ki Bagus Hadikusumo (tokoh Muhammadiyah) bersama tokoh Islam lainnya menyampaikan gagasan keislaman dan kebangsaan dalam sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK), Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah itu dengan tegas menyatakan bahwa dirinya adalah seorang bangsa Indonesia tulen dan sebagai Muslim yang mempunyai cita-cita Indonesia Raya dan Merdeka.

    Sedangkan Bung Karno, juga bersikap sama di mana pada pidato 1 Juni 1945 tentang Pancasila menyebutkan bahwa di dalam dadanya yang nasionalis tersimpan jiwa Islam.

    "Dengan spirit kebangsaan yang menyatu dengan keislaman yang mendalam sebagaimana dicontohkan dua tokoh bangsa itulah Muhammadiyah berkomitmen kuat tetap dan terus berkiprah merekat kebersamaan melalui berbagai kerya nyata berkeunggulan bukan dengan retorika dan keindahan kata-kata," kata dia.

    Marpuji Ali, Panitia Milad Muhammadiyah mengaku mengundang seluruh tokoh dalam acara kali ini. Selain Amien Rais, juga Buya Ahmad Syaffi Maarif. Panitia bahkan juga meminta khusus Amien Rais, yang mengkonfirmasi kehadiran adalah Din Syamsuddin. "Saya yakin sedang berhalangan atau sibuk dengan urusan lain sehingga tidak hadir," kata Marpuji Ali. "Yang pasti kami memang sudah undang semuanya (mantan Ketua Umum PP Muhammadyah),"

    BACA: Pilgub Jabar, Amien Rais Ajak Muhammadiyah dan Aisyah ke Deddy M

    Sedangkan untuk tokoh lain seperti Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla memang sengaja tak diundang menghadiri milad. "Milad ini kan hanya semacam acara ulang tahun, kami memang tak mengundang (Presiden dan wakil Presiden)," ujar Marpuji. Berbeda halnya jika acara itu berupa tanwir. Presiden Jokowi sendiri pada Februari 2017 silam hadir dan resmi membuka sidang Tanwir Muhammadiyah di Kota Ambon.

    Dalam acara itu para pengurus dan pimpinan Muhammdyah berbagai daerah diwajibkan menggunakan busana khas daerah masing masing. Misalnya para pimpinan pusat dan daerah kompak menggunakan baju peranakan khas abdi dalem Keraton Yogya lengkap dengan blangkon dan surjan.

    PRIBADI WICAKSONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Imam Nahrawi dan Para Menteri di Pusaran Korupsi

    KPK menetapkan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi sebagai tersangka. Artinya, dua menteri kabinet Presiden Joko Widodo terjerat kasus korupsi.