Survei: Tak Ada Hubungan Tingkat Kesalehan dan Perilaku Korupsi

Reporter:
Editor:

Budiarti Utami Putri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI), Kuskridho Ambardi. TEMPO/Dasril Roszandi

    Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI), Kuskridho Ambardi. TEMPO/Dasril Roszandi

    TEMPO.CO, Jakarta - Hasil survei Lembaga Survei Indonesia menunjukkan bahwa kesalehan masyarakat bukan faktor yang menentukan perilaku korupsi. Direktur Eksekutif LSI Kuskridho Ambardi mengatakan makna agama dan perilaku ritual yang dijalani hanya berhubungan signifikan dengan sikap responden terhadap korupsi, tetapi tidak berkorelasi dengan perilaku korupsi.

    "Semakin religius hanya semakin bersikap antikorupsi. Perilaku korup tetap berjalan dan tidak ada hubungannya dengan masalah agama," kata Dodi, sapaan Kuskridho, di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta pada Rabu, 15 November 2017.

    Baca: Survei: Responden Menilai 2 Tahun Terakhir Korupsi Meningkat

    Survei LSI mencatat sebanyak 74,9 persen responden yang beragama Islam mengaku sangat atau cukup saleh. Selanjutnya, sebanyak 82,9 persen dari responden itu menyatakan sering atau cukup sering mempertimbangkan agama ketika membuat keputusan penting.

    LSI menelisik tingkat kesalehan ini melalui pertanyaan ihwal praktik ritual yang dilakukan responden. Survei mencatat, sebanyak 55,9 persen dari responden yang beragama Islam menyatakan rutin melakukan salat wajib lima waktu.

    Adapun sebanyak 67,5 persen responden mengaku rutin puasa Ramadhan dan 14,4 persen selalu menjalankan salat sunnah. Responden Muslim dalam survei ini yakni sebanyak 89 persen dari 1.540 responden LSI yang berasal dari 34 provinsi di Indonesia.

    Baca: Survei: Banyak Masyarakat Nilai Korupsi dan Kolusi Hal yang Wajar

    Menurut dosen Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Azyumardi Azra, tingkat kesalehan tidak berkorelasi dengan perilaku antikorupsi sebab terjadi split personality dalam keberagamaan masyarakat. Masyarakat, kata Azyumardi, mendapat pendidikan dan pengajaran dalam hal keimanan, tetapi tak serta merta melakukannya dalam keseharian.

    "Terlalu naif kita berharap dengan meningkatnya kesalehan, korupsi bisa berkurang. Tidak juga. Tidak ada hubungan antara peningkatan kesalehan personal dan sosial," ujar Azyumardi yang menjadi pembahas temuan yang dirilis LSI ini.

    Hal ini juga ditegaskan oleh Koordinator Indonesia Corruption Watch Adnan Topan Husodo. Adnan menyampaikan, penelitian Transparency International sejak 1990-an menunjukkan bahwa negara-negara yang baik indeks persepsi korupsinya ternyata adalah negara-negara yang tidak menempatkan agama sebagai isu utama.

    Negara-negara yang latar belakang agamanya kuat, kata Adnan, justru memiliki indeks persepsi korupsi yang buruk dan cenderung dipandang korup. "Ini menimbulkan pertanyaan apakah nilai agama tidak menjadi ladang yang subur bagi tumbuhnya integritas dan sikap kuat terhadap isu antikorupsi," kata Adnan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.