Dilaporkan Setya Novanto ke Polisi, Saut: Risiko Pimpinan KPK

Reporter:
Editor:

Iqbal Muhtarom

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Ketua KPK Saut Situmorang (kiri) dan Alexander Marwata memberikan keterangan pers mengenai OTT di Bengkulu, di gedung KPK, Jakarta, 21 Juni 2017. KPK menetapkan empat orang tersangka OTT Bengkulu terkait kasus suap yakni Gubernur Bengkulu Ridwan Mukti, istri Gubernur Bengkulu Lily Mardani, Direktur Utama PT Mitra Statika Mitra Sarana (SMS) Jhoni Wijaya dan Direktur Utama PT Rico Putra Selatan (RPS) Rico Dian Sari. ANTARA FOTO

    Wakil Ketua KPK Saut Situmorang (kiri) dan Alexander Marwata memberikan keterangan pers mengenai OTT di Bengkulu, di gedung KPK, Jakarta, 21 Juni 2017. KPK menetapkan empat orang tersangka OTT Bengkulu terkait kasus suap yakni Gubernur Bengkulu Ridwan Mukti, istri Gubernur Bengkulu Lily Mardani, Direktur Utama PT Mitra Statika Mitra Sarana (SMS) Jhoni Wijaya dan Direktur Utama PT Rico Putra Selatan (RPS) Rico Dian Sari. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Saut Situmorang mengatakan langkah Setya Novanto melaporkan dirinya dan Ketua KPK Agus Rahardjo ke polisi merupakan risiko menjadi pemimpin KPK.

    “Laporan itu kami anggap aksi-reaksi dari apa yang kami perbuat, dan itu sudah menjadi risiko setiap pemimpin KPK. Siapa suruh jadi ketua KPK,” ujarnya setelah memberikan pengarahan dalam acara pelatihan fasilitator gerakan "Saya, Perempuan Antikorupsi" di Yogyakarta, Rabu, 15 November 2017. 

    Baca juga: Setya Novanto Mangkir Dipanggil KPK, Jokowi: Baca Undang-Undang

    Saut menyatakan, jika nanti polisi menetapkan dirinya sebagai tersangka, ia siap menjalani semua proses yang sudah ditetapkan undang-undang. Sebab, dengan memenuhi semua prosedur hukum akibat pelaporan ini, kata Saut, membuktikan bahwa KPK tidak main-main dalam mengungkap proses korupsi dan semua dijalani sesuai dengan peraturan. “Saya dan Ketua KPK siap jika sewaktu-waktu dipanggil dalam kasus ini,” katanya. 

    Saat disinggung soal Setya yang tidak hadir memenuhi panggilan KPK sebagai tersangka, Saut hanya berharap Setya menemukan pintu taubat sehingga berani mempertanggungjawabkan apa yang sudah dilakukan. "Semua orang pasti menyadari apa yang diperbuat atau tidak diperbuat. Hadir lebih bagus. Setiap orang punya pintu taubatnya. Jadi saya minta semua orang untuk tidak curiga dulu terhadap kehadiran Setya memenuhi panggilan,” ucapnya.

    Namun Saut berharap Setya Novanto bisa memenuhi panggilan KPK sehingga tidak menyebabkan kegaduhan di masyarakat. Terkait dengan ketidakhadiran Setya, Saut menyatakan KPK akan melakukan rapat internal untuk menentukan langkah selanjutnya.

    Di hadapan peserta gerakan "Saya, Perempuan Antikorupsi", yang semuanya perempuan dan sebagian penyandang disabilitas, Saut menyatakan perempuan memegang peranan penting menjalankan fungsi check and balance. Sebagai seorang istri dan ibu, perempuan mempunyai pengaruhi besar terhadap integritas dan moral suami dan anak-anak.

    Baca juga: Setya Novanto Pastikan Pansus Angket Akan Terus Selidiki KPK

    "Istri punya peranan penting dalam membentuk karakter bangsa. Anak-anak banyak dipengaruhi istri. Masuk dari pintu sederhana saja. Ibu-ibu harus tegas. Membangun integritas bangsa tidak hanya memenjarakan orang, tapi juga pendidikan," tuturnya. 

    Sri Sultan Hamengku Buwono X, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, menyatakan bangsa Indonesia masih harus berjuang memberantas korupsi. Karena itu, integritas antikorupsi harus ditanamkan. Soal sektor apa saja yang masih ada korupsi, ia menyatakan, "Yang korupsi tidak bilang ke saya," katanya berseloroh.

    MUH SYAIFULLAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.