Minggu, 22 September 2019

Kementerian Agama Ingin RI Jadi Sentra Pendidikan Islam Dunia

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Lima nilai budaya kerja merupakan ruh, jiwa, dari aktivitas keseharian di Kementerian Agama.

    Lima nilai budaya kerja merupakan ruh, jiwa, dari aktivitas keseharian di Kementerian Agama.

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Agama akan menggelar Pameran Pendidikan Islam Internasional di Indonesia Convention Exhibition (ICE), Bumi Serpong Damai, Tangerang Selatan, Banten, 21-24 November 2017. Pameran tersebut merupakan bagian dari rencana besar menjadikan Indonesia sentra pendidikan Islam dunia.

    “Indonesia adalah tujuan yang tepat bagi studi ilmu-ilmu agama,” ujar Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Kamaruddin Amin dalam siaran pers, Rabu, 15 Oktober 2017.

    Baca juga: Kemenag Patuhi Aturan Pasca-Putusan MK Soal Penganut Kepercayaan

    Pameran bertajuk “Pendidikan Islam Indonesia untuk Perdamaian Dunia” ini akan menampilkan lembaga pendidikan Islam dari dalam dan luar negeri. Akan ada lebih dari 200 stan pameran dan acara ini diperkirakan menjadi acara pendidikan terbesar di Indonesia. Kementerian Agama memperkirakan acara ini akan menjadi referensi utama para pencari studi Islam dalam berbagai program dan jurusan.

    Selama pameran berlangsung, akan digelar antara lain Seminar Internasional Tahunan tentang Studi Islam (Annual International Conference on Islamic Studies, AICIS), Deklarasi Jakarta, Apresiasi Pendidikan Islam (API), Seminar Internasional tentang Studi Pesantren, dan Kompetisi Robotik Madrasah.

    Kamaruddin mengatakan selama ini studi Islam banyak berkiblat ke Arab dan Barat karena mereka telah terlebih dahulu mengembangkannya. “Namun, dari segi konsep dan mutu, Indonesia berani dibandingkan,” katanya.

    Menurut dia, Indonesia berhasil mengembangkan keislaman moderat rahmatan lil alamin yang terbukti tahan guncangan. Ia mengatakan Indonesia di level dunia banyak menjadi obyek studi keislaman inklusif. Hal tersebut, kata Kamaruddin, terjadi karena terdapat berbagai perbedaan yang hidup berdampingan secara damai dan harmonis di Indonesia. “Sangat berbeda dengan keislaman di Arab dan Afrika yang lebih labil,” tuturnya.

    Saat ini terdapat 600 pendidikan tinggi Islam, 75 ribu madrasah tingkat menengah, dan 28 ribu pesantren di Indonesia. Kamaruddin menyebut Indonesia sebagai negara dengan penduduk beragama Islam terbesar di dunia yang relatif stabil dan minim masalah terorisme.

    Potensi-potensi tersebut, menurut dia, menjadikan Indonesia layak mendapatkan pengakuan sebagai salah satu pusat peradaban Islam dunia. Kamaruddin menyatakan keislaman Indonesia diperkuat berbagai organisasi kemasyarakatan yang saling mendukung. “Sehingga membentuk wajah Islam Nusantara yang moderat, ramah, dan aplikatif,” kata Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama tersebut.

    RIANI SANUSI PUTRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.