Minggu, 15 September 2019

Fahri Hamzah Mendadak Jadi Juru Bicara Setya Novanto

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua DPR Setya Novanto, seusai pembukaan masa sidang pada rapat paripurna DPR, berusaha menghindari wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, 15 November 2017. Tempo / Arkhelaus W.

    Ketua DPR Setya Novanto, seusai pembukaan masa sidang pada rapat paripurna DPR, berusaha menghindari wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, 15 November 2017. Tempo / Arkhelaus W.

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat, Fahri Hamzah, mendadak menjadi "juru bicara" Ketua DPR Setya Novanto saat puluhan wartawan memberondongnya dengan pertanyaan seputar pemanggilan Komisi Pemberantasan Korupsi. Setya Novanto yang menjadi tersangka dugaan korupsi pengadaan proyek e-KTP mangkir dari pemeriksaan KPK dan memilih menjalankan tugasnya di DPR.

    Agenda Setya Novanto di DPR hari ini adalah menyampaikan pidato di rapat paripurna pembukaan masa persidangan ke-II tahun sidang 2017-2018. Selain itu, ia dijadwalkan memimpin rapat pimpinan DPR pada siang harinya.

    Selepas acara rapat paripurna, awak media yang biasa bertugas di DPR sudah mencegatnya di depan pintu keluar ruang rapat yang terletak di lantai 4, Gedung Nusantara II. Belum juga melontarkan pertanyaan, Fahri sudah bicara. "Hari ini kami ada rapim, ya," katanya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta pada Rabu, 15 November 2017.

    Baca: Mangkir Pemeriksaan KPK, Setya Novanto: Saya Harus Pidato

    Awak media pun tetap mengejar jawaban dari Setya Novanto. Ketua Umum Partai Golkar itu pun mau menjawabnya meski singkat. "Hari ini kami rapat pimpinan, ini rapim penting karena program-program awal harus kami lakukan, tugas-tugas negara harus kami selesaikan," kata Setya.

    Ia menjelaskan dirinya memutuskan mangkir dari panggilan KPK karena menunggu putusan Mahkamah Konstitusi terkait uji materi pasal 46 ayat 1 dan 2 serta Pasal 12 Undang-Undang tentang KPK yang didaftarkan pengacaranya, Fredrich Yunadi.

    Baca: Alasan Setya Novanto Tak Penuhi Panggilan KPK

    Setelah memberikan jawaban singkat, Setya Novanto meninggalkan wartawan dan masuk ke dalam elevator untuk membawanya ke lantai dasar Gedung Nusantara II. Wartawan yang belum puas mencoba mendahuluinya dengan menuruni eskalator.

    Sesampainya di bawah, sejumlah awak media kembali mencegat Setya Novanto. Namun kali ini Fahri Hamzah yang berada di sampingnya yang lebih banyak bicara. "Kami ada rapim hari ini. Rapim hari pertama ini, ya Allah," kata Fahri.

    Wartawan pun bertanya apakah Setya Novanto berkenan hadir ke KPK pada sore hari selepas memimpin rapim. Namun Setya bungkam dan jawaban lagi-lagi keluar dari mulut Fahri. "Rapimnya panjang, nih. Hari pertama," ujarnya.

    Setya akhirnya mau membuka mulut kala ditanya soal uji materi di MK. Namun dia memberikan jawaban yang sama dengan sebelumnya. "Tunggu saja, kita hormati MK," ujarnya.

    Merasa belum puas, wartawan terus menempel dua pimpinan DPR ini yang terus berjalan menuju Gedung Nusantara II, tempat ruang kerja pimpinan DPR berada. Pertanyaan demi pertanyaan tetap dilontarkan untuk Setya Novanto.

    Seperti sebelumnya, jawaban tidak keluar dari mulut Setya, melainkan dari Fahri Hamzah. "Beliau ikut KPK, argumen KPK yang dipakai. Ikut KPK aja biar selamat," kata dia.

    Tak perdulikan ucapan Fahri, wartawan tetap mencecar Setya Novanto. Fahri pun meminta media menyudahi pertanyaan. "Sudah nanti aja kita ngobrol baik-baik di atas, yo," ujarnya.

    Dalam aksi 'kejar-kejaran' ini, Setya Novanto tetap irit bicara hingga akhirnya ia tiba di lift khusus pimpinan DPR RI yang membawanya menuju ruang kerjanya. Sejumlah wartawan sampai terjatuh karena mencoba mendekati Setya Novanto namun terhalang oleh deretan pengawalnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lima Warisan Iptek yang Ditinggalkan BJ Habibie si Mr Crack

    BJ Habibie mewariskan beberapa hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Warisannya berupa lembaga, industri, dan teori kelas dunia.