Rabu, 21 Februari 2018

Nelayan Bengkulu Mengaku Muntahan Paus Sudah Ada yang Menawar

Reporter:

Phesi Ester Julikawati (Kontributor)

Editor:

Kodrat Setiawan

Selasa, 14 November 2017 15:39 WIB
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Nelayan Bengkulu Mengaku Muntahan Paus Sudah Ada yang Menawar

    Ilustrasi ambergris atau muntahan paus. Wikipedia.org

    TEMPO.CO, Bengkulu – Nelayan asal Bengkulu, Sukadi, 55 tahun, mengatakan benda-benda yang diduga muntahan paus atau ambergis masih berada di rumahnya. Belum ada yang membeli barang yang totalnya seberat 200 kilogram tersebut.

    "Belum ada yang membeli. Kalau yang menawar ada tapi harga belum sesuai,” kata Sukadi saat dihubungi Selasa, 14 November 2017.

    Baca juga: Muntahan Paus di Bengkulu Diduga Terkait Paus Terdampar di Aceh

    Sukadi, warga Desa Pasar Lama, Kecamatan Kaur Selatan, Bengkulu, menemukan benda yang diduga muntahan paus tersebut pada 2 November 2017. Saat itu, dia tidak sengaja melihat benda berwarna putih tersebut mengapung di atas laut di sekitar Pulau Enggano. Dia pun membawanya ke rumah.

    Mengetahui dari YouTube bahwa benda-benda yang ditemukannya berharga, Sukadi menyimpan muntahan tersebut. Dia akan menjualnya kepada pembeli yang memberikan harga sesuai.

    Ketika dihubungi Tempo, Selasa, Sukadi tak ingin menyebut harga yang pernah ditawarkan ke calon pembeli. Namun, kemarin, dia menyebut angka yang disodorkan. "Rencananya dijual Rp 22 juta tiap kilogram," katanya.

    Sukadi mengungkapkan dari informasi yang didapatkannya muntahan paus ini memiliki nilai ekonomis tinggi karena dapat digunakan menjadi bahan pembuat parfum. "Dia dapat meningkatkan aroma parfum dan membuat aroma parfum bertahan lama," kata dia.

    Menurut Sukadi, muntahan paus itu memiliki tekstur lembut, ringan, dan jika dipegang terasa menyerupai lilin. Jika dipanaskan akan meleleh dan dapat digunakan untuk menghidupkan api. 

    PHESI ESTER JULIKAWATI


     

     

    Selengkapnya
    Grafis

    NAM Air Tepat Waktu, Maskapai dengan OTP Terbaik di Asia Pasifik

    Kementerian Perhubungan mengumumkan bahwa NAM Air dan empat maskapai lain memiliki OTP rata-rata di atas standar Asosiasi Maskapai Asia Pasifik.