TGKH Abdul Madjid Pahlawan, Bendera Raksasa Berkibar di Lombok

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Jokowi menganugerahkan gelar pahlawan kepada empat tokoh Indonesia di Istana Negara, Jakarta, 9 November 2017. Keempat tokoh yang mendapat gelar pahlawan berasal dari empat provinsi yang berbeda. TEMPO/Subekti.

    Presiden Jokowi menganugerahkan gelar pahlawan kepada empat tokoh Indonesia di Istana Negara, Jakarta, 9 November 2017. Keempat tokoh yang mendapat gelar pahlawan berasal dari empat provinsi yang berbeda. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Mataram - Presiden Joko Widodo atau Jokowi menganugerahkan gelar pahlawan nasional pada Tuan Guru Kiai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid pada Kamis, 9 November 2017. Penganugerahan itu disambut pengibaran bendera Merah Putih di Menara Asmaul Husna di ketinggian lebih dari 99 meter di kompleks Islamic Center, Mataram.

    Kordinator penyelenggaraan acara, Nashib Ikroman, mengatakan pengibaran bendera ditempatkan di Masjid Hubbul Wathan-yang artinya Cinta Tanah Air-sesuai ideologi yang ditanamkan TGKH Zainuddin Abdul Madjid dalam berjuang untuk negara dan agama. "Ada satu tarikan nafas. Penamaan masjid adalah satu manifestasi yang diperjuangkan almarhum," ujar Nashib, Kamis, 9 November 2017.

    Baca juga: TGKH Abdul Madjid, Pahlawan Nasional Pendiri Nahdlatul Wathan

    Pantauan Tempo, bendera berukuran 7x14 meter persegi tersebut di pasang dari lantai paling tinggi hingga ke pucuk menara setinggi 114 meter. Pengibaran dilakukan menjelang zuhur, pukul 12.00 WITA, setelah upacara pemberian gelar berlangsung di Istana Negara, Jakarta, pukul 11.00 WIB.

    Pengibaran bendera dilakukan empat orang pecinta alam dari Fakultas Ekonomi Universitas Mataram. Mereka adalah Ali Imran, Salehudin, Zuhri Setiawan, dan Tutus Raharja.

    Selain itu, di selasar selatan dan utara Islamic Center, juga dipasang 24 poster berisi pesan-pesan yang pernah disampaikan TGKH zainuddin Abdul Madjid seperti yang tercantum dalam buku Wasiat Renungan Masa Pengalaman Baru. Poster itu diantaranya bertuliskan "Kami Setia dan Mengabdi Sejak Belum Lahirnya Negeri Tercinta Ini", "Hidupkan Iman Hidupkan Taqwa, Cinta Teguh Pada Agama, Cinta Kokoh Pada Negara".

    Baca juga: Jokowi Beri Gelar Pahlawan Nasional pada 4 Tokoh, Ini Jasa Mereka

    Rencananya, Kamis malam, 9 November 2017, ribuan orang warga Nahdlatul Wathan akan melakukan zikir, salawat dan pembacaan hizib di Masjid Hubbul Wathan Islamic Center Nusa Tenggara Barat (IC NTB). Mereka yang akan hadir antara lain santri Ma'had NW di Pancor, Lombok Timur. "Kami akan datang beramai-ramai. Syukur Alhamdulillah, pemberian gelar pahlawan ini kami syukuri," kata Muhammad Zainuddin Tsani, 18 tahun, seorang mahasiswa jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Institut Agama Islam Hamzanwadi di Pancor, Lombok Timur, kepada Tempo, di halaman IC NTB.

    Zainuddin Abdul Madjid yang biasa disebut sebagai Maulana Syaikh oleh para jamaah NW, adalah pendiri Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI). Dia kemudian juga mendirikan Pesantren Al-Mujahidin (pejuang) yang kini masih diabadikan sebagai nama masjid di dalam kompleks NW di Pancor. Almarhum kelahiran Kampung Bermi, Pancor, Selong, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, 5 Agustus 1898. Meninggal 21 Oktober 1997 pada usia 99 tahun.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.