Ahli Bahasa: Unggahan Sri Rahayu Saracen Ada Ujaran Kebencian

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tiga tersangka dihadirkan dalam gelar perkara penebar ujaran kebencian, di Mabes Polri, Jakarta, 23 Agustus 2017. Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim berhasil mengungkap sindikat kelompok Saracen. TEMPO/Imam Sukamto

    Tiga tersangka dihadirkan dalam gelar perkara penebar ujaran kebencian, di Mabes Polri, Jakarta, 23 Agustus 2017. Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim berhasil mengungkap sindikat kelompok Saracen. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Cianjur - Dua orang pakar di bidang Teknologi Informatika (TI) dan bahasa dihadirkan dalam sidang keempat kasus ujaran kebencian kelompok Saracen dengan terdakwa Sri Rahayu Ningsih. Dalam sidang tersebut, kedua ahli menyatakan ada ujaran kebencian dalam unggahan Sri Rahayu melalui akun Facebook-nya.

    Asisda Wahyu, ahli bidang bahasa mengatakan beberapa unggahan Sri Rahayu yang diberikan dan dikaji olehnya dianggap mengandung unsur SARA dan ujaran kebencian. "Contohnya postingan 'anehnya orang Sulawesi', ada yang tercantum jika mereka menjadi budak China. Itu saya nilai mengandung unsur SARA dan ujaran kebencian," kata dia pada Senin, 6 November 2017.

    Baca: Perkara Saracen, PN Cianjur Mulai Sidang Sri Rahayu Ningsih

    Namun, kata Asisda, postingan lainnya yang berkaitan dengan hebatnya orang Batak, dianggap tidak mengandung unsur SARA dan ujaran kebencian. Hal itu dianggap sebatas ungkapan dan curahan hati. "Untuk yang satu itu tidak, tapi yang dua lainnya dari tiga postingan yang dikaji memang mengandung unsur SARA dan ujaran kebencian," ujarnya.

    Kuasa hukum terdakwa, Inu Jajuli, mengatakan saksi dan tim ahli yang dihadirkan harus kembali belajar membedakan antara kandungan free speech, SARA dan ujaran kebencian. Selain itu, mereka juga diniliai harus mempelajari konteks kasus hukum yang didakwakan pada Sri Rahayu.

    Baca: Empat Polisi Jadi Saksi Sidang Kasus Saracen di Cianjur

    Menurut Inu, pihak kepolisian dan saksi ahli tidak menggunakan pedoman yang merujuk pada pengertian free speech, SARA dan ujaran kebencian. Oleh karena itu, Inu menilai apa yang disampaikan ahli dalam persidangan tersebut tidak jelas.

    "Yang digunakan itu terkait isu SARA untuk kasus ujaran kebencian, padahal keduanya beda. Ujaran kebencian itu dalam kontek dan teksnya digunakan untuk memicu konflik. Seharusnya seorang ahli bahasa tahu, mana level postingan terdakwa ini membahayakan dan membedakan antaran free speech dan hate speech. Jadi bisa disimpulkan kalau pedoman mereka tidak jelas," kata Inu.

    Sri Rahayu Ningsih adalah anggota kedua kelompok Saracen yang sudah menjalani proses sidang. Selain Sri, Abdullah Harsono mulai menjalani sidang di Pengadilan Negeri Pekanbaru. Sementara itu, Ketua Saracen Jasriadi dan Asma Dewi masih menunggu berkas perkaranya rampung. Satu tersangka lainnya, Muhammad Faizal Tanong, berkasnya telah dinyatakan rampung dan menunggu jadwal sidang.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Mengering di Sana-sini

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mengeluarkan peringatan dini bahaya kekeringan untuk wilayah Provinsi Banten dan Provinsi DKI Jakarta.