Soal Meme Setya Novanto, LBH Pers: Pejabat Harus Siap Dikritik

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tim kuasa Kuasa Hukum Ketua DPR RI Setya Novanto menunjukan berkas saat menyambangi Unit 3 SubDit 2 Direktorat Pidana Cyber Bareskrim Polri, Jalan Jati Baru, Tanah Abang, Jakarta, Rabu 1 November 2017.  Kedatangan terkait pelaporan tindak pidana penghinaan/pencemaran nama baik yang diduga dilakukan oleh oknum kader partai politik. TEMPO/Subekti.

    Tim kuasa Kuasa Hukum Ketua DPR RI Setya Novanto menunjukan berkas saat menyambangi Unit 3 SubDit 2 Direktorat Pidana Cyber Bareskrim Polri, Jalan Jati Baru, Tanah Abang, Jakarta, Rabu 1 November 2017. Kedatangan terkait pelaporan tindak pidana penghinaan/pencemaran nama baik yang diduga dilakukan oleh oknum kader partai politik. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Eksekutif Lembaga Bantuan Hukum Pers Nawawi Bahrudin mengatakan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Setya Novanto seharusnya siap terhadap kritik yang ditujukan kepadanya.

    "Seorang pejabat publik sudah seharusnya siap terhadap segala macam kritikan yang ditujukan kepada dirinya," kata Nawawi melalui siaran pers yang diterima Tempo, Jumat, 3 November 2017.

    Baca: Penyebar Meme Setya Novanto Ditangkap, Netizen Ramaikan #SaveMEME

    Setya Novanto melaporkan puluhan akun media sosial Facebook, Twitter, dan Instagram ke polisi atas tuduhan pencemaran nama baik. Setya merasa keberatan atas meme tentang dirinya dan tanda pagar The Power of Setnov yang sempat viral di media sosial.

    Meme tersebut merupakan reaksi masyarakat di media sosial lantaran Setya berhasil lepas dari statusnya sebagai tersangka korupsi e-KTP setelah gugatan praperadilannya dimenangkan oleh hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Cepi Iskandar.

    Nawawi menyampaikan, Setya seharusnya menjadikan kritik tersebut sebagai bahan koreksi atas kinerjanya sebagai pejabat publik. Dia sepatutnya juga menyadari penyebaran meme itu tidak terjadi tiba-tiba.

    Baca juga: SAFEnet: Meme Setya Novanto Bukan Bentuk Penghinaan

    "Meme tersebut bisa dianggap salah satu bentuk kritik masyarakat atau netizen terhadap sistem hukum yang seolah-olah tidak berdaya oleh korupsi," ujar Nawawi.

    Karena itu, kata Nawawi, aparat negara seharusnya menangkap pesan warganet itu sebagai sinyal positif untuk melakukan pembenahan dalam pemberantasan korupsi.

    Namun, kepolisian justru memproses laporan Setya. Polisi telah menangkap dan menetapkan tersangka salah satu penyebar meme, Dyann Kemala Arrizqi.

    Nawawi mengatakan penangkapan itu justru mengundang kecurigaan di kalangan masyarakat. "Penangkapan oleh kepolisian semakin menunjukkan bahwa kasus penghinaan pejabat negara dianggap kejahatan "luar biasa" sehingga diperlakukan seperti itu," ujar Nawawi.

    ZARA AMELIA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?