Temui Jokowi, Persekutuan Gereja Pentakosta Doakan UU Ormas

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Peserta aksi tolak Perppu Ormas menggelar salat ashar berjamaah di depan gedung DPR/MPR, Jakarta, 24 Oktober 2017. TEMPO/Moh Khory Alfarizi

    Peserta aksi tolak Perppu Ormas menggelar salat ashar berjamaah di depan gedung DPR/MPR, Jakarta, 24 Oktober 2017. TEMPO/Moh Khory Alfarizi

    TEMPO.CO, Jakarta - Persekutuan Gereja Pentakosta Indonesia menemui Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan untuk menyampaikan bahwa mereka menerima penerapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Organisasi Massa (Perpu Ormas) yang telah disahkan Dewan Perwakilan Rakyat menjadi UU Ormas. Ketua Umum PGPI Jacob Nahuway mengatakan bahwa persekutuannya mendoakan yang terbaik untuk penerapan aturan itu.

    "Tadi kami singgung bahwa gereja-gereja (pentakosta) mendoakan supaya UU Ormas bisa diterima masyarakat, agama, aliran, dengan legowo," kata Jacob saat ditanyai awak media di kompleks Istana Kepresidenan, Jumat, 3 November 2017.

    Baca: Poin-poin Revisi Usulan Fraksi Demokrat untuk UU Ormas

    Pengesahan Perpu Ormas menjadi UU Ormas ditentang keras beberapa pihak. Banyak yang beranggapan bahwa aturan baru itu terlalu kejam menghukum ormas maupun anggotanya. Di antaranya mengenai mekanisme pengadilan yang dihilangkan dalam proses pembubaran ormas.

    Beberapa fraksi di DPR dan kelompok masyarakat mendesak aturan itu untuk direvisi. Sejauh ini pemerintah pusat mempersilakan jika aturan itu mau direvisi.

    Baca juga: PPP Ajukan Usul Revisi Perpu Ormas

    Jacob mengatakan organisasinya memandang positif UU Ormas yang belum lama disahkan itu. Namun, jika akan direvisi pemerintahan Jokowi, pihaknya akan menghormati proses yang berjalan.

    "Dalam ajaran Kristen, pemerintah itu wakil Allah. Jadi, bagaimana kami menghargai Allah kalau kami tidak menghargai pemerintah yang kelihatan," ujar Jacob.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.