Ini yang Akan Dijelaskan dalam Pledoi Miryam S. Hariyani

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Terdakwa pemberi keterangan palsu Miryam S. Haryani meninggalkan ruangan usai sidang tuntutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, 23 Oktober 2017. Miryam dituntut delapan tahun penjara, denda Rp 300 juta, dan subsidair enam bulan kurungan. ANTARA FOTO

    Terdakwa pemberi keterangan palsu Miryam S. Haryani meninggalkan ruangan usai sidang tuntutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, 23 Oktober 2017. Miryam dituntut delapan tahun penjara, denda Rp 300 juta, dan subsidair enam bulan kurungan. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Jakarta - Penasehat hukum terdakwa pemberi kesaksian palsu dalam perkara korupsi kartu tanda penduduk elektronik atau e-KTP Miryam S. Haryani akan menyampaikan beberapa keberatan dalam pembelaan atau pledoi hari ini, Kamis, 2 November 2017. Penasehat hukum Deddy Firdaus akan menyampaikan keberatan soal kualitas rekaman pemeriksaan kliennya yang buruk.

    “Jaksa ingin menunjukkan bahwa Miryam sama sekali tidak ditekan penyidik,” kata Deddy kepada Tempo, Kamis, 2 November 2017. Padahal, menurut dia, ahli digital forensik Ruby Alamsyah mengatakan kepada majelis hakim kesulitan melihat video rekaman pemeriksaan terhadap Miryam.

    Baca: Dituntut 8 Tahun Bui, Miryam S. Haryani Baca ...

    “Kualitas audio dan video kurang bagus, resolusi rendah, seperti kamera CCTV,” ujarnya. Rekaman itu pun hanya berdurasi dua menit. Padahal, pemeriksaan berlangsung hingga delapan jam.

    Pada Senin, 23 Oktober 2017, jaksa KPK menuntut bekas anggota Komisi Pemerintahan DPR RI periode 2009-2014 itu dengan pidana 8 tahun penjara dan denda Rp300 juta subsider 6 bulan kurungan. Ia dinyatakan Jaksa bersalah karena telah memberikan keterangan palsu di persidangan.

    KPK mendakwa Miryam memberikan keterangan palsu saat hadir menjadi saksi dalam sidang untuk terdakwa kasus korupsi e-KTP, yaitu Irman dan Sugiharto.

    Baca juga: Kepada Elza Syarief, Miryam S. Haryani Akui ...

    Saat menjadi saksi, Miryam mencabut semua keterangan yang pernah diberikan dalam berita acara pemeriksaan penyidikan (BAP). Ia mengaku mengarang cerita saat diperiksa penyidik KPK Novel Baswedan, Ambarita Damanik, dan MI Susanto. Alasannya, kata Miryam, ia merasa stres dan tertekan saat diperiksa.

    Penasehat hukum, kata Deddy, juga akan menyampaikan pembelaan bahwa pencabutan BAP tidak bisa dikenai pasal pemberian keterangan tidak benar. “BAP kan tidak dilakukan di bawah sumpah, seperti persidangan,” kata Deddy.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.