Ekonomi Digital Melejit di 2025

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gedung Indosat ooredoo di kawasan Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta.

    Gedung Indosat ooredoo di kawasan Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta.

    INFO TEKNO - Bagaimana nasib ekonomi Indonesia sepuluh tahun mendatang? Tak perlu cemas-cemas amat. Sejumlah lembaga riset dunia meramal Indonesia akan terus tumbuh membaik. Bahkan ekonomi digitalnya diperkirakan akan bisa mencapai US$ 150 miliar atau sekitar Rp 2.040 triliun, berkontribusi 10 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) pada 2025. Namun ada prasyarat yang harus terpenuhi, yaitu upaya digitalisasi serius di berbagai sektor, penetrasi kepemilikan gadget, internet yang merata, serta kesadaran memanfaatkan teknologi terkini.

    Itulah riset yang dirilis McKinsey, yang mengukur kemajuan digital di Indonesia. McKinsey melakukan penelitian dan analisis terhadap 20 pasar atau negara terpilih di dunia. Negara berkembang yang dijadikan sampel penelitian, antara lain Brazil, Tiongkok, India, Rusia, serta negara tetangga di Asean, yakni Thailand, Malaysia, dan Filipina. Sedangkan negara maju dan sudah matang secara eokomi yang disurvei di antaranya Australia, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Singapura, Korea Selatan, Spanyol, United Kingdom, dan Amerika Serikat. Hasil penelitian menunjukkan Indonesia berada pada tahap baru lahir atau dalam tahap awal dalam digitalisasi.

    Namun Indonesia punya kelebihan karena penduduknya paling aktif secara digital di dunia dan memiliki ekosistem bisnis rintisan berbasis teknologi (startup) yang berpotensi terus berkembang. Pemanfaatan teknologi terkini di bidang teknologi informasi dan komunikasi (TIK) masih butuh peningkatan serta pemerataan digitalisasi di berbagai wilayah dan sektor usaha. Penetrasi internet yang belum tinggi juga membutuhkan keseriusan untuk mempercepat kemajuan digital di Indonesia. Kondisi ini disadari betul pemerintah yang menyatakan ada lima tantangan Indonesia untuk maju dan berkembang. Pertama adalah pembangunan yang belum merata. Kedua adalah ketahanan pangan dan energi yang masih belum mantap. Ketiga infrastruktur dan industri dasar masih kalah bersaing. Keempat adalah akses layanan keuangan dan kelima adalah tantangan sumber daya manusia.

    Ketika dunia beranjak menjadi era digital, maka akan ada empat teknologi yang berkembang signifikan. Seperti mobile internet yang ditopang makin berkembangnya perangkat bergerak, teknologi awal (cloud technology), keterhubungan perangkat dengan internet atau IoT (internet of things), serta analisis cerdas dan data raksasa (big data and advanced analytics). Kombinasi antara keempatnya menjadi kunci percepatan digitalisasi di berbagai sektor. Upaya digitalisasi di berbagai sektor mulai terlihat seperti di sektor pemerintahan. Bagaimana pemerintah pusat dan daerah menyederhanakan rantai birokrasi melalui perizinan satu atap, efisiensi penggunaan anggaran melalui e-lelang dan e-katalog, hingga pemanfaatan aplikasi digital untuk menunjang kinerja pemerintahan.

    Digitalisasi juga membutuhkan peran operator seluler sebagai penyedia ekosistem layanan TIK yang teruji. Seperti Indosat Ooredoo Business yang membantu perusahaan atau pemerintah dalam merencanakan dan menerapkan digitalisasi melalui produk mobile, konvergensi, IoT, dan M2M (machine to machine), konektivitas, IT services, hingga satelit. Dengan solusi seperti ini upaya digitalisasi akan menjadi lebih mudah. (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.