Tito Karnavian Bicara Terorisme dalam Diskusi Panel di Markas PBB

Reporter:
Editor:

Dwi Arjanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kapolri Jenderal Tito Karnavian dalam acara pengukuhan guru besar Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK)/Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) di Auditorium Mutiara STIK/PTIK, Jakarta, 26 Oktober 2017. Kapolri dikukuhkan sebagai guru besar bidang ilmu kepolisian studi strategis kajian kontraterorisme. Tempo/Ilham Fikri

    Kapolri Jenderal Tito Karnavian dalam acara pengukuhan guru besar Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK)/Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) di Auditorium Mutiara STIK/PTIK, Jakarta, 26 Oktober 2017. Kapolri dikukuhkan sebagai guru besar bidang ilmu kepolisian studi strategis kajian kontraterorisme. Tempo/Ilham Fikri

    TEMPO.CO, New York -Kepala Kepolisian RI Jenderal Polisi Tito Karnavian menjadi salah satu pembicara dalam panel diskusi yang diselenggarakan di Markas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) New York pada Senin, 30 Oktober 2017, waktu setempat.

    Dalam diskusi tersebut, Permanent Representative of Indonesia for the United NATIONS HE Dian Triansyah Djani sebagai moderator, Rafiuddin Shah sebagai keynote Remarks Chief of Policy and Coordinating Unit UNOCT. Selain itu ada Burhan Gafoor sebagai panelis pertama Permanent Representative of Singapore for United Nations dan Kapolri Jenderal Tito sebagai panelis kedua.
    Baca : Tito Karnavian: Terorisme Terjadi Selama Dunia Islam Konflik

    Dalam diskusi yang dihadiri 52 perwakilan negara tersebut, Tito berbicara mengenai Strategy and Counter Strategy on Global Terorist Networks. Ia juga mengungkapkan pandangannya tentang terorisme global yang telah menjadi isu utama dalam keamanan dunia internasional saat ini.

    Tito membagi fenomena terorisme global kontemporer menjadi dua gelombang besar. Gelombang pertama muncul saat Al Qaeda sebagai jaringan kelompok terorisme global pertama kali di dunia. “Kedua adalah saat ISIS muncul sebagai ancaman baru bagi keamanan dunia pada 2014,” ujar Tito dalam keterangan rilis yang diterima Tempo pada Selasa, 31 Oktober 2017.

    Lebih lanjut, Tito menjelaskan pentingnya konsep strategi pendekatan yang lebih halus dalam menghadapi kelompok terorisme ini. Tidak hanya sekedar mengandalkan hard approach semata.

    Ada lima langkah yang bisa ditempuh dalam pendekatan lunak tersebut. Yakni, kontra radikalisasi, deradikalisasi, kontra ideology, menetralisir saluran dan menetralisir situasi yang mendukung penyebaran paham radikal.

    Tito Karnavian juga menjelaskan kepada para diplomat di PBB bagaimana perlunya menjaga perdamaian. Khususnya di Negara-negara islam. PBB perlu memberikan perhatian khusus mengenai penyelesaian konflik terkait warga muslim karena ideology radikan yang akan berkembang aktif dan mendapat panggung jika konflik tersebut terjadi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.