TGPF Kasus Penyiraman Novel Baswedan Akan Tetap Libatkan Polisi

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua KPK Agus Rahardjo bersama mantan ketua KPK Abraham Samad, dua mantan wakil ketua KPK M. Jasin, Busyro Muqodas dan Najwa Shihab, sebelum memberikan keterangan kepada awak media usai menggelar pertemuan tertutup, di Gedung KPK, Jakarta, 31 Oktober 2017. Mantan pimpinan KPK menuntut dibentuknya Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) atas penyerangan air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan. TEMPO/Imam Sukamto

    Ketua KPK Agus Rahardjo bersama mantan ketua KPK Abraham Samad, dua mantan wakil ketua KPK M. Jasin, Busyro Muqodas dan Najwa Shihab, sebelum memberikan keterangan kepada awak media usai menggelar pertemuan tertutup, di Gedung KPK, Jakarta, 31 Oktober 2017. Mantan pimpinan KPK menuntut dibentuknya Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) atas penyerangan air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Agus Rahardjo menampung usulan kelompok masyarakat sipil terkait pembentukan tim gabungan pencari fakta dalam kasus penyiraman terhadap penyidik senior KPK, Novel Baswedan. Kalaupun berhasil dibentuk, Agus mengatakan tim ini akan tetap melibatkan pihak kepolisian.

    "Prinsipnya membantu, tidak mungkin bekerja sendiri dan lepas dari kepolisian," kata Agus di gedung KPK, Jakarta Selatan, Selasa, 31 Oktober 2017.

    Baca: Presiden Jokowi Didesak Membentuk TGPF Penyerangan Novel Baswedan

    Hari ini sejumlah tokoh masyarakat sipil antikorupsi menemui tiga pimpinan KPK, yaitu Agus Rahardjo, Basaria Panjaitan, dan Laode Muhammad Syarif. Kelompok masyarakat sipil ini mendesak agar pimpinan KPK saat ini segera berbicara dengan Presiden Joko Widodo dam mendorong agar presiden segera membentuk tim gabungan pencari fakta.

    Adapun tokoh masyadakat sipil yang hadir adalah empat mantan pimpinan KPK, yaitu Abraham Samad, Busyro Muqoddas, Mochammad Jasin, dan Bambang Widjojanto. Hadir pula Akademisi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Mochtar Pabottingi, penggiat media, Najwa Shihab, Ketua Bidang Advokasi Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia Muhammad Isnur, Direktur Amnesty International Indonesia Usman Hamid, dan aktivis HAM Haris Azhar.

    Baca: 200 Hari Penyerangan Novel Baswedan, Polisi: Ada Kendala Teknis

    Novel Baswedan disiram air keras oleh dua pelaku saat perjalanan pulang dari salat subuh di Masjid Al-Ihsan, yang tak jauh dari rumahnya pada 11 April 2017. Akibatnya, mata kiri Novel terluka parah sehingga ia mesti menjalani perawatan di Singapore National Eye Centre sejak 12 April 2017.

    Presiden Jokowi pada akhir Juli lalu sempat menginstruksikan agar kepolisian bisa segera mengusut pelaku penyiraman ini. Namun hingga lebih dari 200 hari sejak insiden terjadi, pelaku tak kunjung ditemukan.

    Sejak instruksi Jokowi itu, Agus mengatakan jika lembaganya baru dua kali melakukan pertemuan guna membahas perkembangan pengusutan kasus ini. Meski kepolisian sempat mengajak penyidik KPK untuk melakukan penyelidikan bersama, namun Agus mengakui ada keengganan dari bawahannya untuk turut serta.

    Didesak untuk mendorong pembentukan tim gabungan, Ketua KPK Agus Rahardjo belum ingin menjanjikan banyak hal. Ia menyebut pertemuan hari ini tidak dihadiri oleh seluruh pimpinan KPK. "Kami kolektif kolegial, akan dibicarakan dulu untuk memutuskannya," kata dia.

    Agus juga belum mengetahui struktur dari tim gabungan pencari fakta kasus Novel Baswedan jika jadi dibentuk. KPK, menurut dia, akan belajar dari tim gabungan lain yang sudah pernah terbentuk untuk kasus yang lain. Namun Agus sempat mengutarakan alasan belum adanya usulan KPK kepada Presiden untuk pembentukan tim gabungan. "Kami sudah diskusikan waktu itu, dalam pemahaman kami, tim gabungan pencari fakta yang lalu tidak hasilkan sesuatu," kata Agus.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Salip Menyalip Tim Sepak Bola Putra Indonesia Versus Vietnam

    Timnas U-23 Indonesia versus Vietnam berlangsung di laga final SEA Games 2019. Terakhir sepak bola putra meraih emas di SEA Games 1991 di Filipina.