Reaksi Mahfud MD Soal Kisruh Revisi UU Ormas

Reporter:
Editor:

Widiarsi Agustina

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mahfud MD, former Contitutional Court after press conference related  bid becomes the winning team leader Prabowo-Hatta at MMD Initiative, Jakarta (5/22). TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Mahfud MD, former Contitutional Court after press conference related bid becomes the winning team leader Prabowo-Hatta at MMD Initiative, Jakarta (5/22). TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Pakar Hukum Tata Negara Mahfud MD menilai positif atas adanya inisiatif revisi Undang-Undang Organisasi Kemasyarakatan (UU Ormas) hasil dari pengesahan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 2 Tahun 2017.

    Ditemui di Kantor Wakil Presiden Jakarta Pusat, Mahfud mengatakan bahwa jika nantinya Undang-Undang Ormas tersebut direvisi, diharapkan bisa memberikan jaminan prosedur formal pembubaran organisasi kemasyarakatan di Indonesia.

    "Soal adanya perubahan, saya kira itu boleh-boleh saja, itu biasa saja. Ada revisi, buat yang baru dan sebagainya. Menurut saya, itu positif, agar negara hukum lebih terjamin prosedur formalnya," ujar Mahfud, Senin.

    BACA: Mendagri Janji Tidak Ada Pembubaran Sebelum Revisi UU Ormas 

    Menurut Mahfud, perdebatan yang terjadi selama ini adalah terkait dengan apakah ormas yang tidak sesuai dengan ideologi negara dibubarkan terlebih dahulu, kemudian di bawa ke pengadilan. Atau, pemerintah yang membawa ke pengadilan dan pengadilan yang membubarkan.

    Rapat Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat telah mengesahkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 2 Tahun 2017 tentang Perubahan atas UU Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) menjadi Undang-Undang (UU).

    Dengan disahkannya UU tersebut, lanjut Mahfud, maka perkara gugatan Perppu Ormas di Mahkamah konstitusi (MK) akan gugur karena tidak ada lagi objek sengketanya. MK akan mengeluarkan vonis bahwa permohonan tidak dapat diterima karena objek sudah tidak ada.

    Baca: Usai Ancam Terbitkan Petisi UU Ormas, SBY Temui Jokowi di Istana

    Mahfud mengatakan, jika nantinya UU tersebut dibawa ke MK untuk dilakukan "judicial review" dan dikabulkan, maka tidak akan menganulir keputusan sebelumnya karena putusan tersebut tidak bisa berlaku surut. Pemerintah sebelumnya menyusun Perppu tersebut untuk membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

    "Sekarang HTI sudah bubar berdasar UU yang berlaku sekarang, besok, misalnya, Desember 2017 UU ini dikabulkan oleh MK dinyatakan batal, HTI sudah bubar. Karena menurut UU tentang pembentukan peraturan perundangan itu tidak bisa pemberlakuan berlaku surut," ujar Mahfud.

    BACA:3 Usul SBY Soal Revisi UU Ormas

    Rapat Paripurna DPR akhirnya mengesahkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 2 Tahun 2017 tentang Perubahan atas UU Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) menjadi Undang-Undang (UU).

    Pengambilan keputusan dilakukan dengan voting, di mana UU Ormas tersebut didukung oleh tujuh fraksi dari sepuluh fraksi yang ada dengan komposisi tujuh fraksi tersebut adalah yakni PDI Perjuangan, Golkar, Nasdem, Hanura, PKB, PPP, dan Partai Demokrat.

    Sedangkan Fraksi Gerindra, PAN dan PKS menolak Perpu tersebut.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lolos ke Piala Eropa 2020, Ronaldo dan Kane Bikin Rekor

    Sejumlah 20 negara sudah memastikan diri mengikuti turnamen empat tahunan Piala Eropa 2020. Ada beberapa catatan menarik.