Sekjen Kemendes Akui Percakapan WhatsApp Bahas Uang Suap BPK

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sidang lanjutan untuk terdakwa penerima suap dari pejabat Kemendes PDTT, Ali Sadli di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta Pusat,  30 Oktober 2017. Tempo/Fajar Pebrianto

    Sidang lanjutan untuk terdakwa penerima suap dari pejabat Kemendes PDTT, Ali Sadli di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta Pusat, 30 Oktober 2017. Tempo/Fajar Pebrianto

    TEMPO.CO, Jakarta - Sekretaris Jenderal Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Anwar Sanusi bersaksi dalam sidang lanjutan untuk terdakwa kasus suap auditor Badan Pemeriksa Keuangan RI Ali Sadli di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta Pusat. Dalam persidangan, Anwar mengakui adanya rencana talangan uang dari pejabat di kementeriannya untuk Auditor Utama Keuangan Negara III BPK Rochmadi Saptogiri.

    Keterangan tersebut terungkap saat jaksa penuntut umum Komisi Pemberantasan Korupsi menampilkan bukti percakapan WhatsApp antara Anwar dengan Sugito, mantan Inspektur Jenderal Kemendes PDTT. "Benar ada percakapan dengan Pak Sugito," kata Anwar di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat pada Senin, 30 Oktober 2017.

    Jaksa KPK menampilkan bukti percakapan antara Anwar dan Sugito pada tanggal 26 April 2017, beberapa hari sebelum uang suap untuk auditor BPK dikumpulkan oleh pejabat Kemendes. Sugito menulis pesan via WhatsApp kepada Anwar, "Untuk Pak Rochmadi, apa bu Eka (Ekatmawati, bawahan Anwar) bisa talangi dulu ya ?".

    Baca: Sidang Suap BPK, Keterlibatan Sekjen Kemendes Kembali Mencuat

    Anwar membalas, "Coba besok saya tanyakan." Sugito kembali membalas, "Kalau enggak bawa kurang permono (pantas)." Pesan Sugito juga dibubuhi dengan emoticon senyum.

    Jaksa KPK Takdir Suhan menanyai maksud dari "talangi" dalam pesan Sugito. Sempat beberapa kali menjawab tidak tahu, akhirnya menjawab, "Ya kalau namanya talangan, ya uang pak," kata Anwar.

    Jaksa tampak tak puas dengan jawaban Anwar dan bertanya kembali, "Apa tidak sempat terpikir, apa hubungannya antara uang talangan dari Kemendes dan Pak Rochmadi dari BPK?". Namun Anwar hanya menjawab, "Tidak ada terpikir."

    Baca: KPK Bidik Tersangka Baru dalam Perkara Suap Auditor BPK

    Anwar mengaku bahwa semula ia tak mengetahui uang talangan tersebut akan diberikan kepada siapa. Barulah dari Sugito, ia mengetahui bahwa talangan tersebut akan diberikan kepada Rochmadi. "Adapun rencana untuk bertanya ke Bu Ekat soal talangan tersebut, tak jadi saya lakukan," ujarnya.

    Beberapa hari kemudian, Sugito juga kembali mengirimkan pesan via WhatsApp kepada Anwar. Sugito mengatakan kepada Anwar, " Pak Ali Sadli dan tim BPK pantas kita apresiasi."

    Ketika ditanyakan soal pesan Sugito ini, Anwar mengaku tidak paham. "Yang saya tahu hanya ucapan terima kasih," ujarnya. Namun setelah dicecar kembali oleh Jaksa KPK, Anwar mengakui bahwa belakangan dia mengetahui yang dimaksud sebagai talangan maupun apresiasi oleh Sugito adalah uang.

    Jaksa Takdir Suhan membenarkan bahwa uang talangan yang dimaksud oleh Sugito adalah uang suap sebesar Rp 240 juta hasil patungan pejabat Kemendes. "Itu fakta persidangan sejak sidang Sugito yang lalu," ujarnya.

    Dalam surat dakwaan Ali Sadli, Anwar disebut mengetahui adanya patungan pejabat Kemendes untuk mengumpulkan dana suap bagi auditor BPK. Ketika dikonfirmasi oleh Tempo, ia membantahnya. Anwar mengaku tidak tahu jika ada patungan pejabat Kemendes untuk mengumpulkan talangan uang. "Saya justru baru tahu ada urunan (patungan) setelah ada operasi tangkap tangan oleh KPK," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.