Robert W. Hefner: Kebhinekaan Mampu Menghadang Populisme Agama

Reporter:
Editor:

Iqbal Muhtarom

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Massa aksi bela islam III sudah memadati Jalan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, 2 Desember 2016. TEMPO/Dwi Herlambang

    Massa aksi bela islam III sudah memadati Jalan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, 2 Desember 2016. TEMPO/Dwi Herlambang

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Indonesianis asal Amerika Serikat Robert W. Hefner optimistis kebhinekaan mampu menghadang populisme agama yang menguat di Indonesia. “Populisme agama di Indonesia meningkat. Tapi, tak perlu khawatir karena Indonesia punya sumber daya manusia yang betul-betul istimewa,” katanya saat mengisi kuliah umum bertajuk Religious Populism in the United States and Indonesia di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Jumat, 27 Oktober 2017.

    Robert W. Hefner telah meneliti peran muslim dalam politik Indonesia menjelang akhir kekuasaan penguasa Orde Baru Soeharto pada tahun 1990-an. Ia juga meneliti masyarakat Tengger di Jawa Timur sejak 1977. Ia mengatakan kuatnya peran komunitas muslim dengan gagasan kebangsaan yang tidak bertentangan dengan cita-cita agama menggambarkan optimisme itu.

    Baca juga: Pidato Anies Soal Pribumi Tak Hanya Disimak Warga Jakarta

    Komunitas muslim Indonesia majemuk dan itu ditunjukkan dengan partisipasi mereka dalam Pemilihan Kepala Daerah Jakarta 2017. Sebanyak 27 persen dari komunitas muslim memilih Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang beragama Kristen dan seorang keturunan Tionghoa. Situasi ini menunjukkan kedewasaan umat muslim di Indonesia di tengah politisasi agama dalam Pilkada.

    Bila Ahok tidak memunculkan pernyataan kontroversial soal Al Maidah, maka kemungkinan ia meraih dukungan yang besar. Pilkada Jakarta, kata dia membawa perubahan bagi komunitas masyarakat muslim.

    Pilkada Jakarta memberikan efek persaingan yang keras dan masih terasa hingga saat ini. Tapi, Hefner melihat di beberapa tempat ada orang-orang yang mencoba menghadapi dan mengatasi fenomena populisme agama. Apa yang terjadi dalam Pilkada Jakarta, kata dia bisa saja digunakan sebagian politikus untuk Pilkada 2018. Politisasi sentimen etnis dan agama akan terjadi di sebagian wilayah. “Satu dua tempat iya. Tapi, saya masih optimistis pada umat Islam yang majemuk dan dewasa dalam partisipasi politik,” kata Hefner.  

    Baca juga: Kontroversi Kata Pribumi di Pidato Gubernur Anies Baswedan

    Ia juga menyoroti gelombang populisme global yang mengkhawatirkan. Dia mencontohkan kemenangan Donald Trump dalam Pemilihan Presiden AS, munculnya politikus rasis di Prancis Marine Le Pen, dan politikus Belanda yang rasis dan anti-Islam, Geert Wilders.

    Populisme global yang menggambarkan anti-imigran, rasis, dan anti-muslim sangat berbahaya. “Saya sangat sakit hati dengan apa yang terjadi di AS. Fenomena populisme yang sangat keras dan bertentangan dengan nilai-nilai agama dan etika,” kata dia.

    Ia menyebutkan di AS, sebagian besar masyarakatnya atau 60 persen tidak menyukai kebijakan-kebijakan Trump. Tapi, Trump punya landasan yang kuat dengan kebijakannya yang konservatif, rasis, dan anti-muslim. "Saya tidak tahu politik AS mau dibawa ke mana," katanya. 

    SHINTA MAHARANI  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.