Menhan: Presiden Jokowi Tak Mau Gelar Pahlawan Nasional Diobral

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu memberikan keterangan terkait polemik pembelian senjata di kantornya di Jakarta Pusat, 26 September 2017. Tempo / Arkhelaus

    Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu memberikan keterangan terkait polemik pembelian senjata di kantornya di Jakarta Pusat, 26 September 2017. Tempo / Arkhelaus

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menghadap Presiden Joko Widodo hari ini untuk membahas pemberian gelar pahlawan nasional selanjutnya. Kepada awak media, Ryamizard menyampaikan pemerintah mempertimbangkan untuk memberikan gelar pahlawan nasional kepada tiga orang sekaligus.

    "Presiden tidak mau pahlawan itu diobral-obral kayak dulu. Dulu kan satu, kami bilang jangan satu-lah, Pak, kalau bisa tiga, Pak," ujar Ryamizard, yang juga menjabat Ketua Dewan Gelar, Kamis, 26 Oktober 2017.

    Pemerintah sudah memiliki sejumlah kandidat yang hendak diberikan gelar pahlawan. Terakhir, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menyampaikan ada sembilan nama yang dipertimbangkan untuk mendapatkan gelar pahlawan nasional. Salah satunya mantan Presiden, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

    Baca juga: KH As'ad Syamsul Arifin Pahlawan Nasional 

    Ryamizard menyebut Presiden Jokowi ingin nama-nama kandidat penerima gelar pahlawan nasional tidak berasal dari satu pulau saja. Kalau memungkinkan, berasal dari berbagai pulau.

    Dalam pembahasan tadi, disinggung nama kandidat penerima gelar pahlawan nasional dari Aceh, Riau, dan Nusa Tenggara Barat. Dari Aceh, nama yang disebut adalah Malahayati. "Malahayati kan udah lama itu, ya, dari tahun 1500-an sekian," kata Ryamizard.

    Sebelumnya, pemerintah Aceh mengusulkan nama Laksamana Malahayati, yang merupakan laksamana perempuan di Aceh, menjadi pahlawan nasional. "Agar perjuangan para pahlawan menjadi pembelajaran bagi generasi sekarang dan di masa mendatang," kata Wakil Gubernur Aceh Nova Iriansyah dalam sambutan singkatnya saat membuka “Seminar Laksamana Malahayati sebagai Pahlawan Nasional” di Banda Aceh, Kamis, 3 Agustus 2017.

    Baca juga: Peringati Hari Pahlawan, Yuk Nonton Parade Juang Surabaya  

    Menurut Nova, penggalian terhadap kisah perjuangan para pahlawan seperti Malahayati sudah semestinya dilakukan lebih terstruktur dan sistematis agar jasa mereka untuk bangsa ini tidak dilupakan generasi mendatang. Dia berharap seminar tersebut memberi pencerahan tentang kepahlawanan Laksamana Malahayati dalam mempertahankan kedaulatan negeri, sehingga dapat melahirkan rekomendasi agar ditetapkan sebagai pahlawan nasional.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.