Selasa, 11 Desember 2018

Islam Damai dan Paradoks Kekerasan pada Minoritas di Indonesia

Reporter:
Editor:

Sunu Dyantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Antony J. Blinken (tengah) tiba di Pesantren Darunnajah, Jakarta, 20 Mei 2015. Dalam kunjungannya di Indonesia, Blinken mengunjungi pesantren Darunnajah yang merupakan lembaga pendidikan khas budaya Indonesia. ANTARA/Puspa Perwitasari

    Wakil Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Antony J. Blinken (tengah) tiba di Pesantren Darunnajah, Jakarta, 20 Mei 2015. Dalam kunjungannya di Indonesia, Blinken mengunjungi pesantren Darunnajah yang merupakan lembaga pendidikan khas budaya Indonesia. ANTARA/Puspa Perwitasari

    TEMPO.CO, Jakarta - Sejumlah santri perempuan Pondok Pesantren Darunnajah memainkan musik hadrah dan bersalawat, menyambut puluhan jurnalis dari negara-negara Asia, Eropa, dan Amerika Serikat. Para wartawan mengambil gambar, merekam, dan berswafoto dengan santri. Mereka juga berkeliling bersama kiai, guru laki-laki, dan guru perempuan di sekitar pesantren, melihat santri putra bermain silat dan santri putri berseragam pramuka sedang bermain dengan yel-yel.

    Puluhan jurnalis antusias berkunjung ke Ponpes Darunnajah yang menerapkan sistem pembelajaran yang modern. “Saya sangat senang berkunjung ke ponpes yang sangat inklusif menerima semua orang dengan tangan terbuka di tengah situasi meningkatnya kelompok-kelompok esktremis yang mengatasnamakan agama,” kata Editor The Statesman India, Uday Basu, Kamis, 19 Oktober 2017.

    Uday merupakan satu dari 20 jurnalis asing yang datang ke Jakarta untuk mengikuti konferensi bertajuk Reporting Religion in Asia yang digelar The International Association of Religion Journalist (IARJ) dan Serikat Jurnalis untuk Keberagaman, 17-19 Oktober 2017. Serangkaian acara itu juga melibatkan puluhan jurnalis Indonesia, dosen, pembicara dari kalangan minoritas (Sunda Wiwitan, Baha’i, tokoh umat Hindu, Ahlul Bait Indonesia, Ahmadiyah Indonesia, tokoh umat Katolik, dan Kristen).

    Ada juga tokoh penting yang mengisi diskusi tentang Islam dan Demokrasi di Indonesia. Diskusi yang mendatangkan Direktur Wahid Foundation Yenny Wahid, Sekretaris Jenderal Muhammadiyah Abdul Mu’ti, dan anggota dari Majelis Ulama Indonesia Syafiq Hasyim.

    Konferensi itu bicara tentang bagaimana jurnalis meliput isu-isu agama, praktek-praktek liputan, situasi yang dialami kelompok minoritas. Jurnalis yang datang ke Pondok Pesantren Darunnajah aktif berinteraksi dengan santri, guru, dan kiai dalam ruangan. Santri perempuan dan laki-laki banyak bertanya kepada jurnalis tentang liputan isu-isu agama. Santri asal Jakarta, Firly bertanya tentang etnis Rohingya yang mengalami kekerasan di Myanmar.

    Ia bertanya bagaimana situasi etnis Rohingnya saat ini dan apa yang jurnalis lakukan untuk membantu mereka. Jurnalis Myanmar yang bekerja di Myanmar Times, Aung Kyaw Min pun menjawab pertanyaan Firly.

    Santri lainnya, Roichanaha Anggun asal Suriname juga bertanya tentang masalah-masalah global yang diliput jurnalis. Ada juga yang bertanya tentang bagaimana jurnalis meliput perang dan memberitakan tentang pelanggaran hak asasi manusia.

    SHINTA MAHARANI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Peringkat Indonesia dalam Indeks Persepsi Korupsi 1995 - 2017

    Sejak kehadiran KPK pada 2002, skor Indeks Persepsi Korupsi Indonesia hingga 2017 menanjak 18 poin yang berarti ada di peringkat 96 dari 180 negara.