Cerita Wiranto Soal TPS Kosong Akibat Tak Ada Serangan Fajar

Reporter:
Editor:

Iqbal Muhtarom

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menko Polhukam Wiranto menjawab pertanyaan pers soal impor senjata Brimob seusai upacara Hari Kesaktian Pancasila, di Lubang Buaya, Minggu, 1 Oktober 2017. Wiranto menjamin impor tersebut tidak mengganggu keamanan nasional. Tempo/Amirullah Suhada

    Menko Polhukam Wiranto menjawab pertanyaan pers soal impor senjata Brimob seusai upacara Hari Kesaktian Pancasila, di Lubang Buaya, Minggu, 1 Oktober 2017. Wiranto menjamin impor tersebut tidak mengganggu keamanan nasional. Tempo/Amirullah Suhada

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto mengingatkan adanya potensi serangan fajar dan serangan senja dalam pemilihan kepala daerah atau pilkada 2018 mendatang. Dari hasil pilkada sebelumnya, kata Wiranto, dirinya pernah mendapat laporan bahwa hal itu masih terjadi di beberapa wilayah di Indonesia.

    "Di sana-sini, jujur, kita katakan masih ada serangan fajar serta serangan senja," katanya dalam pidatonya di Jakarta Selatan, Senin, 23 Oktober 2017.

    Hal itu disampaikan Wiranto dalam acara Rapat Kerja Koordinasi Nasional Persiapan Pilkada Serentak 2018 di Hotel Kartika Chandra, Jakarta Selatan. Acara tersebut merupakan rapat koordinasi antara Kementerian Dalam Negeri serta Kementerian Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan terkait dengan pilkada.

    Baca juga: Pilkada 2018, Wiranto: Tugas-Keinginan Partai Politik Bertabrakan

    Rapat ini dihadiri Komisi Pemilihan Umum Daerah, Badan Pengawas Pemilihan Umum, dan Panitia Pengawas Pemilu di beberapa daerah yang akan menyelenggarakan pilkada pada 2018. Selain itu, turut hadir pula gubernur, bupati-wakil bupati, serta wali kota-wakil wali kota yang menyelenggarakan pilkada 2018.

    Wiranto melanjutkan, serangan fajar tersebut bahkan mengakibatkan sebuah tempat pemungutan suara di daerah Jawa Tengah kosong, tidak ada para pemilih. Setelah diselidiki, ternyata warga tidak memilih karena tidak mendapat serangan fajar.

    Baca juga: Wiranto: Pemerintah Fokus pada Pilkada di Papua

    "Dicek oleh petugas, kenapa kok enggak datang? Enggak ada serangan fajar, Pak," ujarnya menyitir. Cerita tersebut kemudian disambut gelak tawa dari para peserta.

    "Ini ada. Saudara-saudara boleh ketawa, tapi ini ada. Dan ini kan enggak boleh sebenarnya," ucapnya. Karena itu, Wiranto mengingatkan agar ke depan hal tersebut bisa dicegah dan tidak terulang.

    Selain mengenai serangan fajar, Wiranto mengingatkan adanya penyalahgunaan media sosial, yang liar dan tidak bisa dikontrol mampu, yang mengganggu jalannya pilkada mendatang. Hal ini, kata Wiranto, tidak hanya menjadi persoalan bangsa Indonesia, tapi juga permasalahan negara-negara di dunia.

    Baca juga: KPU Angkat Bicara Soal Sengketa Pilkada di Papua

    Wiranto mencontohkan bagaimana media sosial digunakan untuk membuat seseorang bisa sangat mudah terlihat buruk di mata masyarakat. Ia juga mencontohkan bagaimana ujaran kebencian dengan rekayasa video pernah terjadi.

    "Dengan rekayasa teknologi sekarang ini, gampang sekali orang enggak ngomong apa-apa, tiba-tiba di YouTube, lho, kok ngomong saya. Bisa diatur," tuturnya.

    Karena itu, menurutnya, hal-hal seperti itu harus bisa segera dipetakan dan diantisipasi. Selain itu, koordinasi antarlembaga dan penyelenggara menjadi penting supaya bisa bersama-sama meminimalisasi dan mengantisipasi hambatan-hambatan tersebut.


     

     

    Lihat Juga