Sekjen MPR Gelar Penyuluhan Kesehatan Jantung

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • MPR RI Gelar Penyuluhan Jantung

    MPR RI Gelar Penyuluhan Jantung

    INFO MPR - Sekretaris Jenderal (Sekjen) Majelis Permusyawarat Rakyat (MPR) Ma'ruf Cahyono membuka acara penyuluhan kesehatan jantung bagi unit kerja Sekjen MPR dan Dharma Wanita Sekjen MPR.

    Menurut Ma'ruf, penyuluhan dengan tema “Penunjang Bantuan Hidup Dasar Untuk Awam” ini sangat penting karena menyangkut organ paling vital, yakni jantung. Korban penyakit jantung dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, baik dari jumlah orang yang terkena serangan jantung maupun yang mengalami gagal jantung.

    “Tugas di MPR tidak hanya menyangkut kesehatan fisik, melainkan juga non-fisik, yakni psikis. Sering dialami sport jantung dan stres terkait dengan pelayanan aktivitas dan lingkungan kerja. Kita harus tahu bagaimana tindakan preventif dan antisipasinya seperti apa,” katanya, di ruang GBHN, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin, 23 Oktober 2017.

    Materi penyuluhan dibawakan spesialis jantung dari divisi rawat internsif dan kegawatan kardiovaskular Pusat Jantung Nasional Rumah Sakit Harapan Kita, Dian Zamroni, yang juga merupakan staf pengajar departemen kardiologi dan kedokteran vaskular Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

    Dian mengatakan serangan atau henti jantung bisa terjadi pada semua orang. “Tidak tergantung usia, postur tubuh, atau jenis kelamin,” ujarnya.

    Kendati penderita jantung kebanyakan dialami para pria dan jarang terjadi pada perempuan usia produktif. Lelaki berisiko lebih tinggi sakit jantung ketimbang perempuan karena hormon estrogen yang dimiliki perempuan akan memproteksi jantung dan pembuluh darah.

    Ia mengatakan, jantung memompa darah ke tubuh tanpa jeda atau istirahat. “Kita tidak bisa mengendalikan jantung yang beratnya hanya 300 gram dan berdetak 100 ribu kali per hari.”

    Menurut Dian, ada perbedaan antara henti jantung dan serangan jantung. Henti jantung karena ada gangguan pada irama jantung, penderitanya tiba-tiba pingsan serta nadi dan napas tidak ada. Penyebabnya, jantung koroner dan pembesaran jantung karena terjadi penyumbatan pada jantung.

    Sedangkan pada serangan jantung terjadi penyumbatan akut pada pembuluh darah koroner sehingga jantung bisa terhenti sewaktu-waktu.

    Ia memberitahu, gejala serangan jantung, di antaranya dada nyeri seperti ditindih, diremas, atau ditusuk-tusuk, mirip gejala masuk angin. “Kebiasaan yang dilakukan, dikerok sampai kehitaman, lalu minum anti tolak angin, pakai selimut, dan tidur. Keesokan harinya sudah tidak bangun lagi dan meninggal,” ucapnya.

     Untuk mengatasi hal ini, kata Dian, sebaiknya jangan panik dan tetap tenang. Pasien jangan terlalu banyak bergerak, jangan batuk, jangan mengejan, dan minum obat ISDN (isosorbide dinitrate) atau obat yang diletakkan di bawah lidah untuk merelaksasi pembuluh darah. Lalu, mulai melakukan bantuan hidup dasar, berupa bantuan darurat untuk mengembalikan fungsi pernapasan.

    “Waktu tiga sampai empat menit ini harus diupayakan untuk pertolongan pertama berupa resusitasi jantung paru, yakni, tindakan kompresi dada dan pemberian napas buatan, sampai adanya bantuan pertolongan pertama datang ke rumah,” tuturnya.

    Ada empat mata rantai yang harus dilakukan, yakni kecepatan minta bantuan, resusitasi jantung serta paru, defibrilasi alat AED (simulator detak jantung portable menggunakan listrik), dan pertolongan hidup lanjutan.

    Untuk kesehatan jantung, Dian menyarankan agar melakukan pola hidup sehat dengan menyantap menu seimbang, menjauhi rokok serta alkohol, menghindari stres, mengawasi tekanan darah, dan teratur berolahraga. (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.