Jokowi : Ada yang Berdakwah di Media Sosial

Reporter:
Editor:

Widiarsi Agustina

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo berdialog dan bersilaturahmi dengan keluarga besar Persatuan Islam (Persis) se-Bandung Raya saat kunjungan kerja di Kota Bandung, Jawa Barat, 17 Oktober 2017. ANTARA FOTO

    Presiden Joko Widodo berdialog dan bersilaturahmi dengan keluarga besar Persatuan Islam (Persis) se-Bandung Raya saat kunjungan kerja di Kota Bandung, Jawa Barat, 17 Oktober 2017. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Jakarta -Presiden Joko Widodo menutup Multaqa Nasional Organisasi Internasional Alumni Al Azhar (OIAA) di Indonesia ke IV dan sekaligus menutup Konferensi International yang diikuti oleh peserta dari 13 negara yang berlangsung di Ball Room Islamic Center Nusa Tenggara Barat (NTB), Kamis 19 Oktober 2017 petang.

    Sewaktu berbicara sebelum menutup acara dengan menabuh gendang beliq, Jokowi mengaku sering diingatkan para Presiden Afghanistan agar hati-hati mengelola negara. Jangan sampai terjadi konflik yang berkepanjangan dan agar tidak terpecah belah. ''Pesannya hati-hati. Agar tidak seperti di Afghanistan yang terdiri dari tujuh suku kini terpecah adanya 40 kelompok,'' kata Jokowi

    Jokowi mengatakan pesan tersebut sewaktu berbicara masalah moderasi Islam dan toleransi yang sangat penting. Jikalau terjadi gesekan kecil segera diselesaikan. ''Apapun yang terjadi, entah itu antar kampung. Jangan sampai berlarut-larut,'' ujarnya.

    BACA;Cerita Pertemuan Jokowi dengan Presiden Afganistan 

    Pentingnya toleransi Islam tersebut mengingat dalam dunia global ini situasinya sudah berubah dengan adanya media sosial yang mudah diakses yang jika tidak disaring menjadi sangat berbahaya. ''Ada yang berdakwah di media sosial, tetapi siapa yang menyaring dan disaring,'' ucap Jokowi. Termasuk banyaknya fenomena mengkafirkan orang.

    Ia mengajak ke depannya untuk merangkul mereka yang muda agar tidak terjadi salah orang yang merangkulnya untuk bersama membangun Ukhuwah Islamiyah.

    Menurut Joko Widodo, kehadirannya dalam kegiatan alumni Al Azhar Kairo Mesir di Indonesia tersebut karena merupakan organisasi dan pemikiran besarnya Al Azhar. ''Saya telah bertemu sesepuh Al Azhar yang mengatakan pentingnya moderasi Islam dan betapa pentingnya toleransi,'' katanya.

    Ia juga mengaku setiap bertemu para pemimpin negara sahabat seperti Raja Salman dari Saudi Arabia Emir Qatar atau Emirat Arab selalu menjelaskan bahwa Indonesia adalah negara muslim besar yang berpenduduk 250 juta jiwa. ''Banyak yang tidak tahu bahwa Indonesia adalah negara besar,'' ujarnya menyebutkan jumlah pulaunya 17 ribuan dan 714 suku dan 1.100 bahasa.

    Ketua Kehormatan OIAA di Indonesia Quraish Shihab sebelumnya menjelaskan hasil kegiatannya selama dua hari di Multaqa IV OIAA yaitu bahwa dari Al Azhar selaku institusi ilmiah yang selalu mengedapankan prinsip moderasi bukan hanya pemikirannya tetapi juga dalam praktek amaliahnya. ''Mengedepankan toleransi, memahami teks-teks keagamaan, ''ucapnya.

    Dikatakan   bahwa Al Azhar menghimbau alumninya menjadi putra masa kini bukan masa lalu. "Perlunya moderasi dan toleransi dalam segala kebijakan dan tingkah laku," katanya.

    SUPRIYANTHO KHAFID


     

     

    Lihat Juga