Putri Gus Dur Soal Pidato Anies: Publik Jangan Sampai Terjebak

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Alissa Qotrunnada Munawaroh alias Alissa Wahid, bersama Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono (HB) X. TEMPO/Pribadi Wicaksono

    Alissa Qotrunnada Munawaroh alias Alissa Wahid, bersama Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono (HB) X. TEMPO/Pribadi Wicaksono

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Putri sulung Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Alissa Wahid, memperingatkan publik agar mencermati kembali pidato Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tentang pribumi yang tengah menjadi polemik hingga dilaporkan ke kepolisian. Alissa melihat kasus Anies hampir sama ketika publik disodori pernyataan mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, yang menggunakan kutipan surat Al Maidah.

    "Jangan sampai publik terjebak lagi (menafsirkan) seperti saat kasus Pak Ahok menggunakan Al Maidah, harus dilihat konteksnya utuh," ujar perempuan yang juga Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian itu di Yogyakarta, Rabu petang, 18 Oktober 2017. Alissa prihatin terhadap kasus Ahok, yang kondisinya berbeda dengan pidato Anies. Menurut dia, pernyataan Ahok telah lebih dulu diedit, kemudian disodorkan publik, sehingga penafsirannya menjadi berbeda.

    Baca: Putri Gus Dur Soal Pidato Gubernur, Anies...

    "Kita harus akui sudah terjebak saat kasus Pak Ahok. Makanya jangan mengulang kesalahan yang sama," kata Alissa. Dia menilai penggunaan istilah pribumi dan nonpribumi cukup berbahaya dalam kondisi sekarang, meski saat itu Anies menggunakannya dalam konteks era kolonialisme.

    "Saya yakin Anies tahu istilah (pribumi) itu problematik.”  Namun Alissa mempertanyakan alasan Anies menggunakannya dalam pidato saat baru dilantik.

    Baca juga: Gunakan Kata Pribumi, Anies Baswedan Dilaporkan...

    Alissa mengatakan penggunaan istilah pribumi dan nonpribumi, jika tak dilihat konteksnya, bakal dimaknai sebagai pengotak-ngotakan dalam masyarakat. Istilah itu, menurut dia, juga bakal berdampak pada terciptanya batasan, bahwa kelompok masyarakat satu berbeda dengan kelompok masyarakat lain. "Seolah-olah adanya istilah pribumi ini menjadi (bermakna) 'Kita lawan mereka'," ujar putri Gus Dur itu.

    Baca juga: Inilah Penyebab Pidato Gubernur Anies Soal Pribumi Bikin Geger


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti UN, dari Ujian Negara hingga Kebijakan Nadiem Makarim

    Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Gonta-ganti jenis UN sudah belangsung sejak 1965.