Jual Bayi Lewat Facebook, Seorang Ibu di Kediri Ditangkap Polisi

Reporter:
Editor:

Iqbal Muhtarom

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi bayi tidur. Shutterstock

    Ilustrasi bayi tidur. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Karena terdesak kebutuhan ekonomi, seorang ibu nekat menjual bayi yang baru saja ia lahirkan. Ia menjual bayi tersebut melalui media sosial Facebook. Ironisnya, perantara penjualan mendapat bagian lebih besar dari penjualan bayi tersebut.

    Dengan tertatih, Intan Ratna si ibu bayi, berjalan menyusuri lorong markas Kepolisian Resor Kota Kediri. Mengenakan kaos tahanan berwarna oranye, perempuan berusia 20 tahun ini terus memegang perut bawahnya. “Dia dalam pemulihan paska persalinan,” kata anggota polisi wanita yang menggiringnya ke ruang konferensi pers, Rabu 18 Oktober 2017.

    Baca juga: Duh, Akun Ini Jual Bayi dengan Harga Murah

    Di depan sejumlah awak media, Intan yang mengenakan penutup kepala terus menunduk. Ibu muda ini juga tak menunjukkan reaksi saat petugas polisi menggelar kasur bayi berikut perlengkapan minum dan tas hitam di atas meja. Perlengkapan bayi itu adalah barang bukti penjualan bayi yang diamankan polisi dari tangannya.

    Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Kediri Ajun Komisaris Sahara mengatakan, Intan Ratna menjual bayi yang baru saja dilahirkan karena kebutuhan ekonomi. Ibu dua anak ini tak bisa membiayai kehidupan keluarganya setelah ditinggal suaminya merantau ke Jakarta. “Dia berniat bekerja di perkebunan sawit Kalimantan dengan modal hasil penjualan bayi,” kata Sahara.

    Baca juga: Netty: Waspadai Perdagangan Anak di Situs Lelang Perawan

    Rencana merantau ke Kalimantan itu sudah dipikirkan Intan sejak sebelum anak keduanya lahir. Karena itu dia mulai aktif mencari informasi tentang adopsi anak di grup Facebook. Namun alih-alih mendapat informasi tentang proses adopsi yang benar, postingan tersebut justru ditangkap Nofita, seseorang yang menjanjikan akan mencarikan calon orang tua adopsi kepada Intan. Hingga pada akhirnya Intan pun menyetujui penyerahan bayinya kepada Nofita dengan imbalan senilai Rp 5 juta.

    Meski sempat meminta kenaikan harga jual anaknya, Intan akhirnya menerima uang dengan nilai tersebut dari Nofita. Uang itulah yang kemudian dipergunakan sebagai modal berangkat ke Kalimantan sebagai pekerja sawit. Sementara Nofita sendiri justru menerima hasil penjualan sebesar Rp 6 juta, lebih besar dari yang diterima Intan.

    Beruntung proses penjualan bayi itu cepat diketahui orang tua Intan. Dia curiga dengan kondisi anaknya yang pulang dari rumah sakit tanpa membawa bayi. Setelah mendengar jika cucunya telah dijual, ibu Intan melaporkannya ke polisi. Intan berhasil diciduk di stasiun kereta api Kediri saat hendak menuju Kalimantan. Polisi juga bergerak cepat memburu keberadaan bayi yang telah berada di Malang. “Saat ini bayinya sudah kami serahkan untuk dirawat neneknya di Grogol Kediri,” kata Sahara.

    Di rumah itu ibu Intan juga merawat anak Intan yang lain. Selama ini kehidupan ekonomi mereka memang tergolong memprihatinkan. “Saya hanya ingin bekerja, itu saja,” kata Intan lirih dari balik penutup wajahnya.

    Sementara Nofita yang menjadi perantara atas penjualan bayi tengah terbaring sakit di Rumah Sakit Bhayangkara Kediri. Meski tak diamankan ke Mapolres seperti halnya Intan, perempuan itu dijaga ketat aparat kepolisian di rumah sakit. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Pemberantasan Rasuah Indonesia di Hari Antikorupsi Sedunia

    Wajah Indonesia dalam upaya pemberantasan rasuah membaik saat Hari Antikorupsi Sedunia 2019. Inilah gelap terang Indeks Persepsi Korupsi di tanah air.