Bahaya Penggunaan Kata Pribumi, Ini Penjelasan Goenawan Mohamad

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Goenawan Mohamad dalam acara #FestivalMenulis di Gedung Tempo, Jakarta, Jumat, 5 Mei 2017. Tempo/Angelina Anjar Sawitri

    Goenawan Mohamad dalam acara #FestivalMenulis di Gedung Tempo, Jakarta, Jumat, 5 Mei 2017. Tempo/Angelina Anjar Sawitri

    TEMPO.CO, Jakarta - Budayawan Goenawan Mohamad menilai pidato Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang menyinggung istilah pribumi sangat tidak pas diucapkan.

    "Menurut saya, kata pribumi sangat tidak bijak diucapkan karena kata pribumi menimbulkan kondisi menjadi panas dan tidak netral," ujarnya setelah mengisi acara diskusi di Gedung Tempo, Selasa, 17 Oktober 2017.

    Baca: Pidato Anies Soal Pribumi Tak Hanya Disimak Warga Jakarta

    Istilah pribumi dalam pidato perdana Gubernur Anies menuai kritik. Para pengeritik menilai istilah itu mengarah kepada sentimen rasial.

    Menurut Goenawan, kata "pribumi" adalah terjemahan dari "inlander" bahasa Belanda. Pada masa pemerintahan kolonial, diberlakukan pemisahan antara pribumi, orang timur dan orang barat. Penggolongan pribumi juga mengacu kepada asal daerah dan darah keturunan.

    Melihat kasus-kasus rasial yang terjadi, kata Goenawan, dampaknya sangat mengerikan karena menimbulkan efek negatif dari berbagai sisi, khususnya kemanusiaan.

    Baca: Protes Pidato Anies, LBH Jakarta: Stop Pakai Kata Pribumi

    "Dampak dari itu akan sangat menakutkan, karena menunjukkan sikap diskriminasi terhadap masyarakat yang bukan pribumi, dan akan menimbulkan perpecahan yang menelan banyaknya korban" ujarnya.

    MOH. KHORY ALFARIZI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Krakatau Steel di 7 BUMN yang Merugi Walaupun Disuntik Modal

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyoroti 7 BUMN yang tetap merugi walaupun sudah disuntik modal negara.