100 Anggota ISIS Menyerah di Suriah, Wiranto: Tidak Ada WNI

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto saat ditemui di kantor Kemenko Polhukam, 12 Oktober 2017. Tempo/Syafiul Hadi

    Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto saat ditemui di kantor Kemenko Polhukam, 12 Oktober 2017. Tempo/Syafiul Hadi

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto mengatakan tidak ada satupun warga negara Indonesia termasuk dalam 100 anggota Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang menyerah di Suriah. Dia mengetahui hal ini dari hasil penyelidikan Badan Intelijen Negara.

    "Ternyata tidak ada," ujar Wiranto seusai rapat tingkat menteri di kantor Kemenkopolhukam, Gambir, Jakarta Pusat, Senin, 16 Oktober 2017.

    Baca: Isnilon dan Omar Maute Tewas, Wiranto Merujuk Pertemuan Manado

    Sebanyak 100 anggota militan ISIS dikabarkan telah menyerahkan diri di Raqqa, Suriah. Seperti dilansir Reuters pada 14 Oktober 2017, dalam 24 jam terakhir, 100 anggota militan ISIS yang menyerahkan diri akan dievakuasi keluar Raqqa.

    Wiranto mengatakan sebelumnya dia meminta kepada BIN untuk mengecek apakah ada WNI dalam 100 anggota militan ISIS yang menyerah. Dari situ, BIN pun melakukan pengecekan hal tersebut. "Ternyata yang menyerah seratus itu tidak ada warga Indonesia," ujarnya.

    Baca: Penyesalan Para WNI Mantan Pengikut ISIS

    Selain membahas mengenai 100 orang anggota militan ISIS itu, rapat hari ini juga membahas mengenai terbunuhnya tokoh ISIS di Marawi. Wiranto membenarkan terbunuhnya tokoh ISIS di Marawi yang telah resmi diberitahukan Pemerintah Australia. "Memang betul-betul mereka sudah terbunuh, karena gambarnya sudah ada," kata dia. Dua tokoh yang terbunuh itu adalah Isnilon Hapilon dan Omar Maute.

    Wiranto mengatakan atas terbunuhnya tokoh ISIS ini, merupakan hasil kerja sama pertemuan Indonesia dan Australia dalam mengumpulkan teman-teman dari negara di ASEAN. Wiranto menilai kerja sama itu memang bertujuan untuk untuk meredam ISIS yang ingin menjadikan Asia Tenggara menjadi basis mereka yang baru.

    "Kita sangat bersyukur berarti pertemuan kita di Manado dulu, pertemuan yang digagas Indonesia dan Australia membuahkan kerja sama yang cukup baik," ujarnya.

    Menurut Wiranto, kerja sama ini meredam konsep pergerakan ISIS yang divergen. Konsep divergen ISIS ini, kata dia, merupakan gerak menyebarkan basis kekuatan mereka di beberapa wilayah yang berhasil digagalkan. "Juga di Marawi Presiden Duterte telah mengatakan mereka akan selesaikan masalah Marawi," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.