Wiranto Sebut Ujaran Kebencian Bisa Dijadikan Alat Politik Kekuasaan

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menpolhukam Wiranto saat memberikan keterangan pers di Kantor Kemenpolhukam Jakarta, 11 April 2017. TEMPO/Albert/magang

    Menpolhukam Wiranto saat memberikan keterangan pers di Kantor Kemenpolhukam Jakarta, 11 April 2017. TEMPO/Albert/magang

    JAKARTA - Menteri Koordinator Politik Hukum, dan Keamanan Wiranto mengatakan, di masa Pilkada dan Pilpres ujaran kebencian, propaganda politik serta kampanye hitam akan menjadi alat meraih kekuasaan. 

    "Selama itu, radikalisme dalam bentuk ujaran kebencian bercampur dengan propaganda politik dan kampanye hitam akan digunakan sebagai alat meraih kekuasaan," kata Wiranto dalam sambutannya di 6th Action Asia Peacebuilders' Forum, Jakarta Pusat, Senin, 16 Oktober 2017.

    Baca: Menjelang Tahun Politik, Jokowi Akan Kumpulkan Kepala Daerah

    Menurut Wiranto, seperti tahun-tahun sebelumnya, menjelang Pilkada dan Pilpres peningkatan suhu politik tak bisa dihindari. Sebab, kata dia, ada kontestasi dari para calon yang melakukan agenda-agenda politiknya untuk mencapai kemenangan. "Kemudian melakukan langkah-langkah yang diupayakan agar mereka lebih populis dari yang lain, agar mereka dipilih oleh rakyat," ucapnya.

    Wiranto mengatakan, langkah-langkah para calon politik ini terkadang tak bisa dikontrol dengan baik. Hal ini, kata dia, bisa dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok radikal untuk membangun kebencian, kecurigaan, serta konflik antara satu dengan lainnya. "Ini mereka biasanya kan masuk di situ," katanya.

    BACA: Wiranto: Jangan Sampai Politik Dimanfaatkan Kelompok Radikal

    Pemerintah, kata Wiranto, akan memantau dan mengawal peningkatan suhu politik menjelang pemilu. Dia mengatakan pengawalan ini agar peningkatan suhu politik tidak keluar batas kewajaran. "Sehingga tidak menimbulkan keresahan, kekacauan, dan konflik di masyarakat. Itu yang terpenting," ucapnya.

    Wiranto mengimbau kepada para calon yang mengikuti kontestasi politik berhati-hati agar tidak diboncengi oleh kelompok-kelompok yang ingin membangun kekacauan. Termasuk menjaga tidak memanfaatkan ujaran kebencian untuk  menghantam lawan politik.  "Pilkada dan pilpres adalah suatu proses demokrasi yang mulia karena kita memilih pemimpin-pemimpin ke depan, pemimpin lokal maupun pemimpin nasional," ujarnya.

    SYAFIUL HADI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Pemberantasan Rasuah Indonesia di Hari Antikorupsi Sedunia

    Wajah Indonesia dalam upaya pemberantasan rasuah membaik saat Hari Antikorupsi Sedunia 2019. Inilah gelap terang Indeks Persepsi Korupsi di tanah air.