Jumat, 21 September 2018

Cerita Korban Bom Bali setelah 15 Tahun Peristiwa Tragis Itu

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Para korban terorisme (berpakaian hitam) saat berkumpul di Tugu Peringatan Bom Bali atau juga disebut Monumen Ground Zero di Kuta. Pada, Kamis, 12 Oktober 2017, adalah peringatan 15 tahun peristiwa bom Bali/BRAM SETIAWAN

    Para korban terorisme (berpakaian hitam) saat berkumpul di Tugu Peringatan Bom Bali atau juga disebut Monumen Ground Zero di Kuta. Pada, Kamis, 12 Oktober 2017, adalah peringatan 15 tahun peristiwa bom Bali/BRAM SETIAWAN

    TEMPO.CO, Kuta - Puluhan orang bergantian meletakkan bunga di Tugu Peringatan Bom Bali, atau Monumen Ground Zero, di Kuta. Pada Kamis, 12 Oktober 2017, tepat 15 tahun peristiwa bom Bali yang menewaskan 202 orang itu terjadi.

    Sore itu, Chusnul Chotimah mendatangi tugu tersebut. Perempuan berusia 47 tahun itu tak kuasa menahan tangis. Telapak tangannya menutupi mulutnya sambil menangis. "Mungkin saya sempat pingsan. Ketika sadar, saya melihat kobaran api besar," tuturnya saat ditemui di lokasi.

    Baca juga: 15 Tahun Bom Bali, ICJR: Banyak Korban Belum Dapat Bantuan

    Ia mengalami cacat permanen di wajah dan tangannya. Bekas luka menonjol atau keloid setiap malam mengganggu tidurnya karena menimbulkan rasa gatal. Sudah 15 tahun berlalu, harapan Chusnul masih sama, yakni perhatian dari pemerintah untuk pengobatan dirinya. Selain itu, ia merasa kesulitan menyambung kehidupannya.

    "Kalau pemerintah sudah memberikan lapangan pekerjaan para bekas teroris, tolong kami juga yang sulit mencari kerja," ujarnya. Chusnul menambahkan, untuk biaya pengobatan selama ini ia menggunakan biaya pribadi yang mencapai Rp 133 juta.

    Untuk biaya pengobatan itu, Chusnul terpaksa harus berutang. "Saya terpuruk utang dari 2004. Kalau saya mau berobat, harus pinjam ke rentenir," katanya.

    Simak pula: Siapa Hambali, Perancang Bom Bali 2002?

    Gubernur Bali Made Mangku Pastika hadir dalam peringatan 15 tahun bom Bali. Dalam sambutannya, ia menyampaikan peringatan tersebut bukan untuk menumbuhkan dendam. "Banyak kontroversi tidak perlu (diperingati), tapi harus (diperingati)," tuturnya.

    Ia menjelaskan, melalui peringatan ini, orang lain akan memahami kondisi para korban. "Tidak mungkin kita melupakannya (teroris), tapi maafkan. Kita belajar dari sini, perdamaian bukan jatuh dari langit," ujarnya. "Tapi harus ada upaya untuk berdamai dari dalam diri sendiri."

    Acara peringatan 15 tahun bom Bali itu juga diisi dengan peluncuran buku berjudul Luka Bom Bali. Buku tersebut menceritakan kisah para korban terorisme bom Bali yang menjalani hidup dan upaya melepaskan diri dari kesulitan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Richard Muljadi Ditangkap Ketika Menghirup Kokain, Ini Bahayanya

    Richard Muljadi ditangkap polisi ketika menghirup kokain, narkotika asal Kolombia yang digemari pemakainya karena menyebabkan rasa gembira.