Charta Politika: Jokowi Akan Sulit Dikalahkan

Reporter:
Editor:

Iqbal Muhtarom

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Fraksi PDI Perjuangan di DPR, Puan Maharani (kanan) menjawab pertanyaan wartawan bersama Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya di ruang fraksi PDI Perjuangan, DPR, Jakarta, (7/9). ANTARA/Rosa Panggabean

    Ketua Fraksi PDI Perjuangan di DPR, Puan Maharani (kanan) menjawab pertanyaan wartawan bersama Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya di ruang fraksi PDI Perjuangan, DPR, Jakarta, (7/9). ANTARA/Rosa Panggabean

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya mengatakan, bila melihat tren elektabilitas berdasarkan sejumlah survei, peluang Presiden  Joko Widodo atau Jokowi sebagai calon inkumben terpilih kembali sangat besar.

    Peluang Jokowi terpilih kembali kian menguat, menurut Yunarto, jika melihat pertarungan di 2019 tak lebih sebagai kelanjutan rivalitas pada pemilihan presiden 2014. “Peluang Jokowi sangat besar. Kalau pertarungan hanya berujung pada kelanjutan 2014, saya pikir Jokowi akan sulit dikalahkan," kata Yunarto kepada Tempo, Selasa, 10 Oktober 2017.

    Baca juga: Bantah Tiga Survei, Charta Politika: Elektabilitas Jokowi Naik

    Yunarto menilai sejauh ini lawan politik Jokowi gagal memainkan pertarungan isu. Menurut dia, politik identitas yang menyangkut suku, ras, agama, dan antargolongan (SARA) tidak berhasil menaikkan tingkat elektabilitas lawan Jokowi.

    Yunarto menyarankan lawan politik Jokowi sebaiknya belajar memainkan strategi lain. “Bagaimana kemudian pertarungan isu bisa lebih substansial. Membahas masalah pemerataan, kesenjangan, kemiskinan, dan kegagalan mencapai target. Kalau itu terjadi, menurut saya, pertarungan akan positif," ujarnya.

    Baca juga: Tiga Survei Berbeda, Elektabilitas Jokowi di Bawah 50 Persen

    Menurut Yunarto, bila tingkat kepuasan publik terhadap calon inkumben masih di atas  60 persen, peluangnya memenangi pertarungan terbuka lebar. “Dan hal itu linear dengan tingkat elektabilitas," katanya.

    Kendati hasil hasil survei tiga lembaga menunjukkan elektabilitas Jokowi masih di bawah 50 persen, menurut Yunarto, hal itu disebabkan oleh adanya responden yang belum menentukan pilihan atau undecided voter. Adapun ketika di tempat pemilihan suara (TPS), undecided voter dianggap tidak ada.

    Baca juga: Survei: Elektabilitas Jokowi Meningkat, Prabowo Turun

    "Undecided voter dianggap hilang, kemudian yang dibilang 100 persen itu hanya suara sah. Jadi otomatis biasanya angkanya akan naik," kata Yunarto.

    Yunarto mengatakan angka kepuasan publik terhadap kinerja Jokowi sebenarnya mengalami tren peningkatan dibanding survei sebelumnya. Dia mencontohkan, survei Saiful Mujani Research Center (SMRC) pada 2015 menyebut angka kepuasan publik sebesar 49 persen. Dalam rilis SMRC terbaru, tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Jokowi sebesar 61 persen.

    Baca juga: KedaiKOPI: Elektabilitas Gatot Nurmantyo untuk Cawapres Tinggi

    Tren ini juga diikuti peningkatan elektabilitas. Elektabilitas Jokowi meningkat dari 25,5 persen pada 2015 menjadi 38,9 persen. Sebaliknya, kata Yunarto, elektabilitas Prabowo Subianto justru mengalami penurunan. Dalam periode yang sama, elektabilitas Prabowo turun dari 13,6 persen menjadi 12 persen.

    "Jadi yang harus dilihat adalah data longitudinal atau tren dibandingkan dengan periode sebelumnya. Jokowi naik dalam tingkat kepuasan publik dan elektabilitas, Prabowo turun," ujar Yunarto. Berdasarkan tren ini, Yunarto mengatakan Jokowi masih calon kuat dalam pilpres 2019.

    Baca juga: Pemilu 2019: Jokowi Bisa Kalahkan Penantang Baru, Jika…


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Berbagai Cara dalam Menekan Pelanggaran Batasan Bawaan Penumpang

    Direktorat Jenderal Bea dan Cukai terus berupaya menekan pelanggaran batasan bawaan penumpang dari luar negeri di pintu masuk bandara.