Ahmad Basarah: Resimen Mahasiswa Pelopori Gerakan Kampus Benteng Pancasila

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Badan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI, Ahmad Basarah  (dok MPR)

    Ketua Badan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI, Ahmad Basarah (dok MPR)

    INFO MPR- Ketua Badan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI, Ahmad Basarah mengatakan, pemuda dalam sejarah terbentuknya bangsa dan negara Indonesia memiliki peran strategis. Sebagai sebuah bangsa, tonggak sejarahnya  adalah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.

    “Sedangkan sebagai sebuah negara, bangsa, maka kita bisa melihat bagaimana peran strategis para pemuda dalam peristiwa sekitar proklamasi kemerdekaan Indonesia pada waktu itu. Tidak berhenti disini, pemuda juga turut  andil dalam upaya mempertahankan NKRI dari rongrongan pemberontakan di dalam negeri pada awal kemerdekaan,” kata Basarah, pada pidato penutupan kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di hadapan Resimen Mahasiswa se-Provinsi Lampung, Minggu, 8 Oktober 2017.

    Ia juga mengatakan, bahwa hal-hal itu membuktikan pemuda tidak boleh absen dalam upaya mengawal negara,  khususnya dalam memastikan Pancasila sebagai satu-satunya ideologi yang cocok dan sesuai dengan kepribadian bangsa yang harus terus dilestarikan.

    Dilanjutkan Basarah, “Bangsa Indonesia saat ini menghadapi dua gelombang persaingan ideologi dunia atau transnasional yaitu fundamentalisme pasar dan fundamentalisme agama. Realitanya, pemuda Indonesia kini menjadi korban dari gaya hidup konsumtif dan hedonis yang ditawarkan oleh kaum liberalisme sebagai pendukung utama fundamentalisme pasar,” katanya.

    Sementara disisi  lain, kaum fundamentalisme agama telah berhasil merekrut anak-anak muda Indonesia untuk menjadi pelaku terorisme. Untuk itulah, MPR mensosialisasikan nilai-nilai Empat Pilar MPR RI seperti Pancasila, UUD 1945 dan Tap MPR, NKRI serta Bhinneka Tunggal Ika ke seluruh penjuru Indonesia termasuk kalangan pemuda dan pelajar, agar mereka memiliki daya tahan ideologis menghadapi infiltrasi ideologi-ideologi asing. 

    Basarah mengingatkan agar anak-anak muda Indonesia berhati-hati dengan praktek politik devide et impera, politik adu domba. “Kita jangan salah menganalisa musuh bangsa. Musuh kita adalah kelompok yang hendak mengganti Ideologi Pancasila dengan ideologi-ideologi lainnya. Sehingga, sangat tidak tepat jika kita memusuhi saudara-saudara sebangsa hanya karena berbeda suku, agama, ras dan golongannya,” ujarnya.

    Salah satu ancaman besar terhadap generasi muda Indonesia adalah bentuk-bentuk gerakan radikalisme agama yang masuk ke lingkungan kampus dengan menawarkan paham-paham yang tidak sesuai dengan jiwa dan kepribadian bangsa. “Seluruh elemen masyarakat harusnya sudah meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya ini,” tutur mantan aktivis GMNI ini. 

    Oleh karena itu, Resimen Mahasiswa (Menwa) punya tugas sejarah dan tugas ideologis penting untuk mengawal, mengamankan dan menyebarluaskan ideologi Pancasila dengan mempelopori “Gerakan Kampus Sebagai Benteng Pancasila”. “Bersama-sama dengan elemen pemuda lainnya, pemudalah yang harus berada di depan, pemudalah yang memegang obor untuk mencegah paham-paham yang bertentangan dengan Pancasila agar tidak masuk ke dalam kampus. Sehingga, masa depan pendidikan dan nasib generasi penerus bangsa Indonesia ke depan tidak berada di jalan yang salah,” kata Anggota Komisi III DPR ini.(*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Ahok, dari DPRD Belitung hingga Gubernur DKI Jakarta

    Karier Ahok bersinar lagi. Meski tidak menduduki jabatan eksekutif, ia akan menempati posisi strategis: komisaris utama Pertamina.