Presiden Jokowi: Perempuan adalah Kunci Perdamaian

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presdein Joko Widodo saat tiba di Sumenep, Madura guna memperingati Hari Perdamaian Internasional. instagram.com

    Presdein Joko Widodo saat tiba di Sumenep, Madura guna memperingati Hari Perdamaian Internasional. instagram.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Dalam kunjungannya ke Sumenep untuk merayakan Hari Perdamaian Internasional, Presiden Joko Widodo menegaskan dukungannya terhadap kesetaraan gender dan pentingnya peran perempuan dalam mendorong terwujudnya perdamaian. "Perempuan adalah kunci bagi perdamaian," ujarnya saat mengikuti festival rakyat di Pesantren Annuqqayah, Sumenep, Ahad, 8 Oktober 2017.

    Penegasan Jokowi tentang kesetaraan gender yang tercantum dalam siaran pers UN Women itu bukanlah yang pertama kali. Di awal pemerintahannya pada 2015, Jokowi juga menyatakan dukungan serupa atas inisiatif global UN Woman HeForShe. Inisiatif global yang didukung Perserikatan Bangsa-Bangsa itu bertujuan memajukan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan.

    Baca:
    Kunjungi Sumenep, Jokowi akan Berdialog dengan 200 Kyai

    Di Sumenep, Jokowi Memperingati Hari Perdamaian Dunia

    Festival rakyat yang dikunjungi Jokowi juga melibatkan UN Woman dan Wahid Foundation, yang selama ini memperjuangkan kesetaraan gender. Dalam acara yang digelar Tim Impresario itu, Presiden berkesempatan merayakan kontribusi perempuan dalam membangun komunitas, mewujudkan ketahanan masyarakat, serta perdamaian dunia.

    Jokowi mengatakan peran perempuan dalam menjaga perdamaian dimulai di satuan paling kecil, yaitu keluarga. Dari keluarga sampai dunia, perempuan punya andil menjaga perdamaian. Adapun soal perdamaian dunia secara umum, Presiden meyakini perdamaian bukanlah hal yang bisa dipaksakan. Sebaliknya, menurut ia, perdamaian harus ditumbuhkan. Karena itu, kegiatan-kegiatan yang memajukan unsur perdamaian perlu didukung.

    "Saya mengapresiasi kerja sama UN Woman dan Wahid Foundation lewat 'Perempuan Berdaya, Komunitas Damai' untuk membangun masyarakat yang damai,” ucapnya. Jokowi mengajak perempuan menanamkan, menumbuhkan, dan menyebarkan nilai perdamaian.

    Baca juga:
    Menteri Khofifah Mendorong Perempuan Menjadi Agen Perdamaian ...
    Aditya Moha Ditahan KPK: Saya Berjuang Demi ...

    Regional Director UN Women Regional Office for Asia and the Pacific, Miwa Kato, menyampaikan hal senada. Menurut dia, perempuan memiliki posisi unik untuk membangun perdamaian dan toleransi. Karena itu, perempuan tidak bisa dikesampingkan dalam kegiatan-kegiatan di bidang ekonomi, sosial, dan politik di masyarakat. "Dengan memastikan mereka dapat berpartisipasi dalam kehidupan ekonomi, politik, dan sosial di masyarakat serta menghargai kontribusi mereka, Indonesia akan menjadi lebih kuat, inklusif, dan damai," tuturnya.

    Direktur Wahid Foundation Yenny Wahid menyampaikan pemberdayaan perempuan merupakan bagian dari upaya menciptakan masyarakat yang damai dan toleran. "Hal itu merupakan langkah yang baik bagi perempuan, komunitas, dan Indonesia," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.