Rekonsiliasi Islam dan Kristen dalam The Imam and The Pastor

Reporter:
Editor:

Sunu Dyantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pendiri sekolah perempuan untuk ibu-ibu korban konflik di Poso, Lian Gogali  saat diskusi bersama ibu-ibu di pantai Imbo, Madale, Poso Utara, Sulawesi tengah, (24/7). Tempo/Aditia Noviansyah

    Pendiri sekolah perempuan untuk ibu-ibu korban konflik di Poso, Lian Gogali saat diskusi bersama ibu-ibu di pantai Imbo, Madale, Poso Utara, Sulawesi tengah, (24/7). Tempo/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Ratusan orang dari berbagai agama, etnis, dan budaya menonton dan mendiskusikan film bertema rekonsiliasi dan perdamaian antar-umat beragama “The Imam and The Pastor”. Sebagian dari mereka terkesan dan antusias menonton usaha keras dua pemuka agama dalam menciptakan perdamaian di tengah permusuhan Islam dan Kristen di Nigeria.

    Film dokumenter berdurasi 40 menit itu diputar atas kerja sama sejumlah lembaga di Lembaga Indonesia Prancis Yogyakarta, Jumat, 6 Oktober 2017. Lembaga itu di antaranya Program Studi Agama dan Lintas Budaya atau CRCS Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Magister Perdamaian dan Resolusi Konflik UGM, dan Pusat Studi Agama dan Demokrasi Yayasan Paramadina.

    The Imam and the Pastor diproduksi tahun 2006 oleh FLT Films, rumah produksi di London, Inggris, yang memfokuskan karya-karyanya pada masalah etnis, dialog antar-agama, dan rekonsiliasi konflik. “Dua pemuka agama Nigeria yang menjadi tokoh utama film itu akan datang ke UGM untuk berbagi pengalaman,” kata Pengajar Program Studi Agama dan Lintas Budaya atau CRCS, Zainal Abidin Bagir yang menjadi moderator dalam diskusi film.

    Dosen Departemen Ilmu Hubungan Internasional UGM Diah Kusumaningrum dan Direktur Institut Dialog Antar-Iman Interfidei Elga Sarapung menjadi pembahas film garapan Sutradara dan Produser Alan Channer. “Film itu mengingatkan orang pada konflik Poso di Indonesia,” kata Direktur Interfidei Elga Sarapung.

    Film itu menceritakan usaha keras pemuka agama Nigeria Muhammad Ashafa dan James Wuye menciptakan perdamaian di tengah permusuhan Islam dan Kristen. Ashafa merupakan ulama Islam, sedangkan Wuye pendeta.

    Nigeria punya suku Hausa dan Fulani yang mayoritas Islam, sedangkan Yoruba dan Igbo merupakan Kristen. Hausa dan Fulani banyak tersebar di utara Nigeria, sedangkan Yoruba dan Igbo kebanyakan tinggal di barat dan timur Nigeria. Kedua kelompok agama itu sering berkonfrontasi ketika rezim berganti. Pembunuhan massal pun terjadi. 

    Ashafa dan Wuye bermusuhan pada 1980-an hingga 1990. Ashafa dan Wuye sama-sama memimpin kelompok militan di wilayah utara Nigeria. Mereka membenci satu sama lain. Permusuhan sengit itu menjadikan ribuan nyawa melayang. Wuye kehilangan tangan kanannya untuk menjaga gereja dari kepungan milisi muslim. Wuye dipenuhi keinginan untuk balas dendam. Di pihak muslim, bentrokan antar dua kubu itu menyebabkan dua sepupu dan guru spiritual Ashafa mati ketika melawan kelompok milisi Wuye.

    Keadaan berubah ketika Ashafa dan Wuye bertemu pada 1995. Mereka menumbuhkan rasa saling percaya dan menghilangkan prasangka. Hal itu tumbuh dari kemauan mereka mendalami agamanya masing-masing. Rencana balas dendam batal setelah Ashafa mendengar kutbah Jumat tentang sikap memaafkan Nabi Muhammad.

    Begitu pula, Wuye tidak jadi balas dendam setelah memahami bahwa Kristen mengajarkan cinta kasih dan menjauhi dendam. “Muslim dan Kristen punya hal yang sama yakni kasih. Rekonsiliasi mereka datang dari hati,” kata Elga memberi catatan tentang film itu. 

    Mereka kemudian menumbuhkan saling percaya. Tak mudah menuju ke situ. Tapi, mereka berupaya melawan rasa benci dan permusahan. Keduanya kemudian seringkali berkeliling di Nigeria untuk menyebarkan pesan perdamaian. Mereka juga aktif dalam upaya rekonsiliasi di wilayah yang kembali dilanda konflik agama. Di penghujung film, dua pemuka agama itu menjalin persahabatan. Isteri mereka pun berkawan dekat.

    Dosen Departemen Ilmu Hubungan Internasional UGM Diah Kusumaningrum mengatakan Indonesia bisa belajar dari peran dua tokoh agama Nigeria menjalankan rekonsiliasi dan mediasi berbasis agama. Dua pemuka agama agama itu menjadi contoh bagaimana mereka melampaui prasangka dan stereotip di tengah konflik.

    Keduanya juga menggunakan pendekatan semangat beragama dengan menjelaskan sumber-sumber perdamaian dalam agama. “Mediasi lintas iman, membicarakan masalah menjadi cara untuk memotong lingkaran setan kekerasan. ” kata Diah.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tito Karnavian Anggap OTT Kepala Daerah Bukan Prestasi Hebat

    Tito Karnavian berkata bahwa tak sulit meringkus kepala daerah melalui OTT yang dilakukan Komisi Pemerantasan Korupsi. Wakil Ketua KPK bereaksi.