Pidato Kebhinekaan Muhaimin Iskandar Saat Terima Doktor HC

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa, Muhaimin Iskandar menyampaikan pidato dalam rangka pemberian gelar doktor kehormatan (Dr.H.C) dari Universitas Airlangga Surabaya, 3 Oktober 2017. TEMPO/Artika Farmita

    Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa, Muhaimin Iskandar menyampaikan pidato dalam rangka pemberian gelar doktor kehormatan (Dr.H.C) dari Universitas Airlangga Surabaya, 3 Oktober 2017. TEMPO/Artika Farmita

    TEMPO.CO, Jakarta - Universitas Airlangga (Unair) Surabaya memberikan gelar doktor kehormatan atau honoris causa (Dr.H.C) kepada Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar, siang ini. Pria yang akrab disapa Cak Imin itu memperoleh gelar tersebut di bidang Sosiologi Politik.

    Muhaimin Iskandar menyampaikan pidato berjudul Mengelola Kebhinekaan untuk Kemajuan dan Kesejahteraan Bangsa. Ia menyoroti berbagai ancaman terhadap nasionalisme di Indonesia, salah satunya ialah kelompok fundamentalis yang menyatakan diri sebagai alternatif terhadap nation-state dan nasionalisme. Namun, hal itu tidak berpengaruh luas di Indonesia.

    "Jika di tempat-tempat lain nasionalisme gagal menjadi tandem bagi perjuangan Islam, Islam di Indonesia terbukti mampu bersimbiosis dengan nasionalisme," kata dia dalam pidatonya di Aula Garuda Mukti Unair, Selasa, 3 Oktober 2017.

    Baca juga: Dosen Unair Memprotes Gelar Honoris Causa untuk Muhaimin Iskandar

    Muhaimin mengatakan, anugerah ini merupakan hadiah terbesar buat aktivitas perjuangan untuk menyatukan berbagai kekuatan yang ada di Indonesia. Baik melalui legislatif dan eksekutif, melalui peran-peran politik yang dia emban. “Dengan penghargaan ini tentu menjadi amanah kepada saya untuk melanjutkan amanah menjadi bagian kesatuan Unair dan perjuangan bangsa. Saya akan menjadi jembatan agar Unair semakin berperan untuk bangsa dan Negara,” tuturnya.

    Usai bergelar Dr H.C, Mantan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI tahun 2009-2014 itu ingin mendirikan pusat studi multikulturalisme di Universitas Airlangga. Menurutnya, Unair harus berperan langsung dalam kehidupan sosial kemasyarakatan sekaligus sebagai pusat ilmu pengetahuan dan teknologi. "Salah satu yang belum ada di tanah air kita adalah pusat studi multikultural atau pusat studi kebhinekaan," ujar dia.

    Pusat studi multikulturalisme itu, katanya, akan menjadi satu-satunya di Indonesia. Dengan begitu ia berharap dapat menutup berbagai ancaman kebhinekaan yang selama ini sering menjadi polemik tersendiri di Indonesia. “Saya siap untuk mengerahkan potensi-potensi dari berbagai kalangan yang sebagian dari pusat studi kebhinekaan."

    Baca juga: Muhaimin Minta Kader PKB Sumbangkan Gajinya Bantu Warga Rohingya  

    Gelar doktor honoris causa atas Muhaimin Iskandar ini menuai protes sejumlah dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) Unair. Di tempat terpisah, mereka menggelar jumpa pers ihwal keberatan terhadap penganugerahan itu.

    Salah satu dosen Departemen Politik, Airlangga Pribadi, menilai Muhaimin Iskandar tak memenuhi kualifikasi. "Kami hendak menghentikan praktek-praktek transaksional dalam dunia akademik di Unair. Akademisi dan intelektual di Unair masih banyak yang kritis dan tidak menghamba pada kekuasaan," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Terobosan Nadiem di Pendidikan, Termasuk Menghapus Ujian Nasional

    Nadiem Makarim mengumumkan empat agenda utama yang dia sebut "Merdeka Belajar". Langkah pertama Nadiem adalah rencana menghapus ujian nasional.