Ahmad Heryawan Belum Cabut Status Kekeringan meski Ada Banjir

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ahmad Heryawan di Pesta Gedung Sate, Sabtu, 30 September 2017. (Dok. Pemrov Jabar)

    Ahmad Heryawan di Pesta Gedung Sate, Sabtu, 30 September 2017. (Dok. Pemrov Jabar)

    TEMPO.CO, Bandung - Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mengatakan belum memutuskan status siaga kekeringan meski sejumlah wilayah di Jawa Barat sudah banjir dan longsor.

    “Hujan baru sekali dua kali, siaga kekeringan belum dicabut. Prediksi BMKG itu akhir September hujan sedang, hujan mulai besar dan lebat di pertengahan dan akhir Oktober, ternyata akhir September sudah mulai ngagebret ya,” kata Ahmad, yang akrab dengan sapaan Aher, di Bandung, Senin, 2 Oktober 2017.

    Baca juga: 176 Kecamatan di Jawa Barat Siaga Darurat Kekeringan

    Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat Dicky Saromi mengatakan penetapan status siaga kekeringan batas waktunya hingga 31 Oktober 2017.

    Menurut Aher, status siaga banjir dan longsor akan diberlakukan saat nanti memasuki musim hujan. “Tentu sebagaimana kita di musim kemarau antisipasi kekeringan, di musim hujan pun antisipasi ada dua bahaya biasanya, longsor dan banjir,” kata dia.

    Menurut Aher, bahaya banjir dan longsor berpotensi terjadi setelah musim kemarau. “Ketika kekeringan terjadi, tanah pecah, ada retakan di lapisan tanah. Ketiak retakan di masuki hujan, gampang longsor. Oleh karena itu deteksi dini terus kita lakukan,” kata dia.

    Aher meminta warga di daerah yang berpotensi terjadi bencana agar mematuhi rekomendasi pemerintah dan institusi resmi yang memperingatkan potensi bahaya tersebut. “Masyarakat dimohon apabila ada deteksi dini dilakukan lembaga resmi, oleh pemerintah atau baik lembaga terkait untuk segera mengevakuasi dini, jangan ditunda-tunda sampai ada mara bahaya,” kata dia.

    Menghadapi ancaman bencana, pemerintah Jawa Barat menyediakan dana tidak terduga. “Setiap tahun di angka sekitar Rp 75 miliar, dan angka itu tidak pernah habis untuk antisipasi bencana, untuk mitigasi bencana,” kata Aher.

    Aher mengatakan, hingga saat ini, baru setara 20 persen dari dana itu untuk menangani bencana sejak awal tahun ini. “Paling hebat 30 persen, itu juga berupa bantuan ke kabupaten/kota. Biasanya dalam bencana-bencana tertentu (daerah) sudah tidak mampu lagi, kita bantu dari provinsi,” kata Ahmad Heryawan.

    AHMAD FIKRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lolos ke Piala Eropa 2020, Ronaldo dan Kane Bikin Rekor

    Sejumlah 20 negara sudah memastikan diri mengikuti turnamen empat tahunan Piala Eropa 2020. Ada beberapa catatan menarik.