Politikus Golkar: Setya Novanto Menang, Elektabilitas Partai Naik

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Hakim tunggal Cepi Iskandar memimpin sidang vonis praperadilan yang diajukan DPR Setya Novanto di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, 29 September 2017. ANTARA FOTO/Reno Esnir

    Hakim tunggal Cepi Iskandar memimpin sidang vonis praperadilan yang diajukan DPR Setya Novanto di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, 29 September 2017. ANTARA FOTO/Reno Esnir

    TEMPO.CO, Jakarta- Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan atas praperadilan Setya Novanto dalam kasus korupsi e-KTP disambut gembira kader Partai Golkar. Wakil Bendahara Umum Bidang Kajian Ideologi dan Kebijakkan Publik Partai Golkar, Erwin Ricardo Silalahi mengatakan putusan pengadilan yang membatalkan status tersangka Setya Novanto merupakan momen penting bagi Golkar untuk bangkit lagi.

    Momen ini menurut Erwin sangat tepat untuk berkonsolidasi agar bisa mengembalikan elektabilitas partai yang sempat anjlok. "Tentu dengan menggerakkan seluruh jaringan dan infrastruktur partai sampai ke tingkat akar rumput," kata Erwin di Kantor DPP Partai Golkar pada Sabtu, 30 September 2017.

    Baca juga: Setya Novanto Menang Praperadilan, Tim Advokasi Hukum: Sesuai Fakta Persidangan

    Setya Novanto sebelumnya menjadi tersangka dalam kasus korupsi e-KTP. Setya Novanto kemudian mengajukan praperadilan atas Komisi Pemberantasan Korupsi yang menetapkannya sebagai tersangka. Dalam sidang praperadilan, hakim tunggal Cepi Iskandar memenangkan Setya Novanto.

    Erwin yakin, dengan kemenangan Setya Novanto tersebut elektabilitas Partai Golkar akan meningkat lagi. Meski ia menolak anggapan yang menyebut elektabilitas Golkar anjlok gara-gara Setya Novanto terjerat kasus mega korupsi e-KTP.

    Baca juga: Setya Novanto Menang Praperadilan, KPK Buka Opsi Sprindik Baru

    Ia menilai bahwa tingkat elektabilitas partai adalah tanggung jawab seluruh kader partai baik di eksekutif, legislatif, pusat, daerah hingga tingkat basis. Karena itu, penting menurut Erwin untuk melakukan konsolidasi partai hingga ke tingkat akar rumput. "Penting mendorong program-program yang memiliki dimensi kerakyatan dan partisipasi di masyarakat," kata dia.

     Baca juga: Setya Novanto Menang 1:0, Tapi KPK Bisa Beraksi Lagi


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Ahok, dari DPRD Belitung hingga Gubernur DKI Jakarta

    Karier Ahok bersinar lagi. Meski tidak menduduki jabatan eksekutif, ia akan menempati posisi strategis: komisaris utama Pertamina.