Pengungsi Gunung Agung Terus Berdatangan di Lombok

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Polisi dan warga memantau aktifitas Gunung Agung di Pos Pemantauan Desa Rendang, Karangasem, Bali, 15 September 2017. ANTARA FOTO

    Polisi dan warga memantau aktifitas Gunung Agung di Pos Pemantauan Desa Rendang, Karangasem, Bali, 15 September 2017. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Mataram - Arus pengungsi yang terdampak aktivitas Gunung Agung, di Bali, terus berdatangan di Pelabuhan Lembar, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Hingga Minggu siang, 24 September 2017, kapal-kapal yang bersandar di Pelabuham Lembar, masih mengangkut para pengungsi.

    Mereka umumnya adalah warga Karangasem yang memilih mengungsi ke rumah keluarga yang ada di Lombok setelah status  Gunung Agung meningkat menjadi Awas. "Desa saya sudah sepi, mungkin saya pengungsi terakhir," kata Nyoman Suci, 29 tahun, warga Desa Ababi, Kecamatan Abang, Karangasem saat ditemui di Pelabuhan Lembar.

    Baca juga: 15.142 Pengungsi Gunung Agung Menyebar ke 125 Titik

    Seperti kebanyakan pengungsi yang datang ke Lombok, Nyoman Suci yang datang bersama bayinya yang baru berumur satu tahun, berencana tinggal di rumah keluarganya di Kelurahan Karang Baru, Mataram. Dia menuturkan hanya kaum lelaki dewasa--termasuk suaminya-- yang masih bertahan di kampungnya, untuk menjaga harta benda mereka.

    Para pengungsi yang datang ke Lombok, mengeluarkan biaya secara swadaya. Sebagian dari mereka datang menggunakan sepeda motor seperti Arya (40), warga Dangin Seme, Amlapura, yang datang bersama istri dan tiga orang anaknya. "Saya pedagang di sana, tapi pasar sudah tidak ada aktivitas," tutur Arya.

    Lombok menjadi pilihan Arya dan keluarganya untuk mengungsi karena ada keluarga yang akan menampungnya. Sementara mengenai sekolah dua anaknya yang saat ini sudah duduk di bangku sekolah dasar, Arya belum memutuskan kelanjutannya. "Kita lihat dulu situasinya, semoga bisa segera pulih, dan kami bisa kembali, kalau tidak memungkinkan ya harus sekolah di sini." katanya.

    Kedatangan para pengungsi Gunung Agung ke Lombok sudah terjadi sejak Jumat, 22 September 2017. Hanya saja tidak ada data resmi mengenai jumlah mereka.

    Kepala Kepolisian Sektor Pelabuhan Lembar, Ipda Jasa Julianto mengatakan pihaknya belum mendapat perintah untuk membentuk posko pemantauan. "Secara kasat mata kami juga memantau tidak ada yang signifikan, mereka seperti penumpang biasa, tidak bergerombol," kata Julianto.

    Badan Penanggulangan Bencana Daerah BPBD NTB juga tidak memiliki data jumlah pengungsi dari Bali yang sudah ada di Lombok akibat aktivitas  Gunung Agung yang meningkat. Posko pemantauan, untuk mendata para pengungsi, rencananya akan mulai dibangun Minggu sore ini.

    ABDUL LATIEF APRIAMAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.