Emboli, Si Pembunuh Ibu Melahirkan  

Kamis, 28 November 2013 10:31 WIB

Manuela Mitre, seorang ibu memegang anak keduanya usai dilahirkan dengan menggunakan proses melahirkan di dalam air hangat di dalam kolam renang anak-anak di Sao Paulo, Brazil, (6/11). Proses melahirkan tersebut berjalan lancar. REUTERS/Nacho Doce

TEMPO.CO, Jakarta - Istilah emboli tiba-tiba memantik perhatian publik. Itu terjadi setelah kasus dugaan malpraktek dr Dewa Ayu Sasiary Prawani yang menyebabkan kematian pasiennya di Rumah Sakit Kandou Manado. Apa itu emboli? Menurut Ketua Persatuan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) Jaya, Frizar Irmansjah, emboli adalah penyumbatan pembuluh darah yang dapat menghasilkan kondisi yang sangat fatal.

"Sumbatan yang masuk ke aliran darah dapat menimbulkan kematian segera, bisa dalam hitungan menit. Makanya, emboli sangat fatal," kata Frizal kepada Tempo, saat diwawancara, Kamis, 28 November 2013.

Ciri-ciri terjadinya emboli, kata Frizar, salah satunya jika tiba tiba detak jantung ibu yang akan melahirkan berada di atas 160 per menit. Jika itu terjadi, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter kandungan untuk mengantisipasi tindakan darurat bagi diri sendiri.

Penyumbatan pembuluh darah bisa disebabkan oleh air ketuban, udara, lemak, trombus (darah beku), rambut bayi, bahkan feses bayi serta komponen lain. Kasus emboli yang terjadi pada ibu melahirkan, menurut Frizal, biasanya disebabkan oleh masuk atau menerobosnya air ketuban ke dalam pembuluh darah. Kemudian air ketuban ini akan menempel di bagian-bagian tertentu tubuh, seperti otak, paru-paru dan bahkan jantung. Air ketuban yang mengkontaminasi pembuluh darah akan menghambat aliran oksigen sehingga terjadi sumbatan.(Baca: Malpraktek atau Tidak dr Ayu? Lihat Empat Poin Ini)

Meski begitu, kasus yang air ketuban yang menerobos masuk ke dalam pembuluh darah dan menyebabkan emboli jumlahnya sangat sedikit. "Insiden yang terjadi sekitar 1 banding 27 ribu kejadian," kata Frizal. Artinya, hanya ada satu kejadian dari 27.000 persalinan.

Kasus emboli pada ibu yang akan melahirkan tidak hanya terjadi pada proses Cito Secsio Sesaria (operasi sesar), melainkan juga pada persalinan biasa. Menurut Frizal, dalam setiap proses persalinan pasti terdapat kondisi dimana pembuluh arteri dan vena yang pecah. "Saat itulah, air ketuban bisa masuk, bahkan sel lemak bayi, rambut bayi, dan feses bayi," kata Frizal.

Frizal menegaskan, tidak ada gejala awal yang dapat memprediksi terjadinya emboli pada ibu melahirkan. Meskipun pemeriksaan dan prosedur medis lengkap telah dilakukan. Sebab, pemeriksaan medis biasa dilakukan sebelum ibu melahirkan. Beberapa saat sebelum melahirkan bisa saja kondisi tubuh Ibu akan menunjukkan keadaan normal.

Padahal, emboli dapat terjadi secara tiba-tiba di tengah persalinan. "Apalagi setiap pasien memiliki keadaan tubuh yang berbeda. Emboli ini tidak bisa kita periksa atau kita cek sebelum persalinan," kata Friz. Bahkan terkadang dalam penanganan persalinan, emboli tidak teraba oleh dokter kandungan. (Baca: Dituduh Kriminalisasi dr Ayu, Ini Jawaban MA)

Gejala emboli lebih sering ditemukan oleh dokter anestesi atau bedah yang melakukan operasi. Keadaan paling jelas yang menunjukkan terjadinya emboli adalah kadar saturasi oksigen yang sangat rendah pada tubuh pasien. "Maka pasien biasanya sesak napas karena terjadi penyumbatan aliran darah dan paru," katanya.

Pada kasus dokter Ayu, hakim-hakim agung Mahkamah Agung mendapatkan kesaksian dari beberapa dokter. Salah satunya adalah dokter forensik Johannis F. Mallo. Menurut dia, emboli udara bisa saja disebabkan oleh pemasangan infus, tapi itu kecil kemungkinannya. Penyebab lainnya, emboli terjadi karena komplikasi persalinan. (Baca: Kontroversi Putusan Kasasi Vs Upaya PK dr Ayu )

CHETA NILAWATY

Berita Terpopuler Lainnya:
Dokter Ayu Menyesal Jadi Dokter
Tiga Keluhan Nur Mahmudi kepada Jokowi
Tak Mogok, Dokter di RS Fatmawati Kenakan Baju Hitam
Dokter Ayu Ditangkap, Farhat: Santai Aja Kalee..



Berita terkait

Tuntutan dari Mahasiswa UGM, IPK 4,00 di Universitas Jember, serta Penyakit Akibat Polusi Mengisi Top 3 Tekno

1 hari lalu

Tuntutan dari Mahasiswa UGM, IPK 4,00 di Universitas Jember, serta Penyakit Akibat Polusi Mengisi Top 3 Tekno

Topik tentang mahasiswa UGM menggelar aksi menuntut tranparansi biaya pendidikan menjadi berita terpopuler Top 3 Tekno Berita Hari Ini.

Baca Selengkapnya

5 Kampus Kedokteran Terbaik di Indonesia Versi QS WUR by Subject 2024

17 hari lalu

5 Kampus Kedokteran Terbaik di Indonesia Versi QS WUR by Subject 2024

QS World University Rankings atau QS WUR by Subject 2024 kembali menghadirkan daftar kampus dengan jurusan kedokteran terbaik di Indonesia.

Baca Selengkapnya

Peneliti UI Ungkap Tantangan Pemanfaatan Kecerdasan Buatan dalam Bidang Kedokteran

47 hari lalu

Peneliti UI Ungkap Tantangan Pemanfaatan Kecerdasan Buatan dalam Bidang Kedokteran

Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) di bidang kedokteran harus tetap memperhatikan prinsip etika.

Baca Selengkapnya

Masih Mogok Kerja, Polisi Korea Selatan Gerebek Kantor Ikatan Dokter

1 Maret 2024

Masih Mogok Kerja, Polisi Korea Selatan Gerebek Kantor Ikatan Dokter

Polisi Korea Selatan menggerebek kantor ikatan dokter karena mogok kerja masih berlangsung.

Baca Selengkapnya

Cerita Teman Anggi si Pembajak Shopee Mau Pinjamkan Rekening Banknya untuk Penipuan

20 Februari 2024

Cerita Teman Anggi si Pembajak Shopee Mau Pinjamkan Rekening Banknya untuk Penipuan

Kepada hakim, ALI tak menyangka temannya, Anggi, akan membajak paket Shopee dan menggunakan akun banknya untuk penipuan lantaran mahasiswi kedokteran.

Baca Selengkapnya

Kisah Marie Thomas Melawan Diskriminasi hingga Jadi Dokter Perempuan Pertama di Hindia Belanda

19 Februari 2024

Kisah Marie Thomas Melawan Diskriminasi hingga Jadi Dokter Perempuan Pertama di Hindia Belanda

Marie Thomas dikenal sebagai dokter perempuan pertama. Ia melalui diskriminasi saat sekolah kedokteran

Baca Selengkapnya

Apa Syarat Pendirian Fakultas Kedokteran di Indonesia?

8 Februari 2024

Apa Syarat Pendirian Fakultas Kedokteran di Indonesia?

Pendirian Fakultas Kedokteran diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2021.

Baca Selengkapnya

Prabowo Janjikan Bangun 300 Fakultas Kedokteran, Apa Tanggapan IDI dan IDAI?

8 Februari 2024

Prabowo Janjikan Bangun 300 Fakultas Kedokteran, Apa Tanggapan IDI dan IDAI?

IDI dan IDAI menilai rencana Prabowo mendirikan 300 Fakultas Kedokteran Prabowo bukan solusi yang tepat mengatasi masalah kesehatan di Indonesia.

Baca Selengkapnya

Prabowo Janji Bangun 300 Fakultas Kedokteran dan Beasiswa 10 Ribu Pelajar

4 Februari 2024

Prabowo Janji Bangun 300 Fakultas Kedokteran dan Beasiswa 10 Ribu Pelajar

Calon presiden Prabowo Subianto menjanjikan 300 fakultas kedokteran dan beasiswa untuk 10 ribu pelajar.

Baca Selengkapnya

Biaya Kuliah Fakultas Kedokteran di ITS hingga IPB University

16 Januari 2024

Biaya Kuliah Fakultas Kedokteran di ITS hingga IPB University

Berapa besaran UKT untuk Program Studi Kedokteran?

Baca Selengkapnya