Minggu, 5 Desember 2021

Cerita Tenaga Kesehatan Korban Penyerangan KKB di Kiwirok: Dilempar ke Jurang

Reporter:

Egi Adyatama

Editor:

Syailendra Persada

Jumat, 17 September 2021 15:09 WIB

Sejumlah tenaga kesehatan berunjuk rasa mengecam aksi kekerasan yang terjadi di wilayah Distrik Kiwirok, Papua. Foto: Istimewa.

TEMPO.CO, Jakarta - Marselinus Ola Atanila, salah seorang tenaga kesehatan (nakes) korban kekerasan di kerusuhan di Kiriwok, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua, dievakuasi ke Jayapura hari ini, Jumat, 17 September 2021. Ia mengatakan penganiayaan ini dilakukan oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB).

Marselinus merupakan nakes yang telah bertugas di Puskesmas Kiriwok sejak 1,5 tahun lalu. Pada saat serangan terjadi pada Senin pagi, 13 September 2021, ia bersama lima orang lain, yakni tiga orang suster dan dua orang mantri di dalam salah satu barak di Puskesmas.

"Mereka (KKB) menghancurkan kaca-kaca jendela dan memukul pintu, berusaha masuk ke dalam untuk menyerang kami. Mereka juga menyiram bensin di sekitar barak medis dan mulai membakarnya," kata Marselinus di Jayapura.

Advertising
Advertising

Hampir 10 menit bertahan di dalam, Marselinus dan ketiga suster akhirnya memutuskan keluar. Kobaran api sudah semakin membesar dan mulai meruntuhkan plafon. Namun di luar, ia mengatakan anggota KKB sudah berkerumun dan membuat mereka tak bisa lari. Ia dan ketiga suster pun bersembunyi di toilet salah satu rumah warga.

30 menit bersembunyi, Marselinus mengatakan kondisi di luar semakin mengkhawatirkan. Ia pun akhirnya memutuskan untuk mencoba keluar dan lari bersama ketiga nakes lain.

Upaya ini juga gagal. Ia dan ketiga suster akhirnya malah terpojok dan dikepung KKB. Satu-satunya jalan adalah jurang setinggi 500 meter yang ada di belakang barak. Marselinus sebenarnya ragu karena jurang itu memiliki kemiringan hampir 90 derajat.

"Saya tanya suster bagaimana harus mengamankan diri, mereka jawab 'kita lompat saja'. Tanpa pikir panjang saya hitung 1 sampai 3, dan saya lompat pertama, kemudian para suster mengikuti saya untuk melompat," kata Marselinus.

Namun harapan Marselinus untuk kabur ternyata salah. Ia mengatakan anggota KKB justru ikut terjun ke bawah untuk mengejar mereka. Padahal saat itu, ia dan ketiga suster sudah dalam kondisi tersangkut. Marselinus sendiri mengaku bisa meloloskan diri dan sempat bersembunyi di balik tebing dan semak.

Namun ketiga suster, yakni Kristina Sampe Tonapa, Gabriela Meilani, dan Katriyanti Tandila tertangkap. Mereka dibawa kembali ke atas. Di sana, Marselinus menyebut mereka disiksa oleh KKB. Suara Marselinus bergetar menahan tangis saat menjelaskan penyiksaan yang dialami ketiga nakes itu.

Menurut Marselinus, jumlah anggota KKB yang datang semakin banyak. Ketiga suster sendiri akhirnya pingsan. Namun para anggota KKB menyangka mereka sudah tewas. Marselinus mengatakan ketiga suster itu pun dibuang ke jurang lain yang kedalamannya hampir 400 meter.

Belum selesai, para anggota KKB kembali turun ke jurang. Di sana, mereka menemukan Gabriela masih dalam keadaan sadar meski sudah tak berdaya. Marselinus menduga di situ anggota KKB membunuh Gabriela.

Marselinus sendiri memutuskan mulai naik ke atas kembali sekitar pukul 17.00 WIT, setelah merasa situasi sudah aman. Ia lari ke arah koramil terdekat untuk mencari perlindungan.

"Namun di sana tak ada petugas karena mereka semua sudah diarahkan ke Pos Pamtas. Saya kemudian mengamankan diri ke rumah warga di sekitar koramil," kata Marselinus.

Marselinus bertemu dua orang mantri yang ikut jadi korban, yakni Parta dan Emanuel Abi, pada Selasa, 14 September. Mereka bertemu setelah Patra dan Abi juga menyusul ke Koramil setelah bersembunyi di jurang pada saat kejadian. Abi mengalami luka di punggungnya akibat panah.

Sedangkan Suster Katriyanti dan Suster Kristina diketahui masih berada di jurang. Suster Katriyanti akhirnya berani keluar pada malam hari dan lari ke arah Polsek Kiriwok. Namun Polsek juga kosong.

"Menurut keterangan Suster Anti, karena takut dengan situasi, dia bersembunyi di semak-semak. Sampai pukul 7 pagi, ada kegiatan pembersihan oleh Pos Pamtas 403, dan Suster Anti keluar dari semak-semak," kata Marselinus.

Suster Kristina akhirnya baru bisa ditemukan tim gabungan TNI-Polri pada Rabu sore, 15 September 2021. Dia masih dalam keadaan selamat meski terluka. Tim juga menemukan jenazah Suster Gabriela.

Saat ini, Suster Kristina telah dievakuasi dan dibawa ke Jayapura. Namun jenazah Suster Gabriela masih belum berhasil diangkat dari dasar jurang karena kendala cuaca buruk.

"Mudah-mudahan siang ini bantuan personel dilengkapi perlengkapan. Semoga jenazah bisa kita evakuasi ke Jayapura," kata Kasdam XVII/Cenderawasih Brigadir Jenderal TNI Bambang Trisnohadi di Jayapura soal tewasnya tenaga kesehatan ini.

DEVY ERNIS

Baca juga: KSP Minta KKB Hentikan Teror di Papua