Close

Frans Magnis: Dipo Alam Wajib Bela SBY  

Rabu, 22 Mei 2013 | 13:56 WIB

Frans Magnis: Dipo Alam Wajib Bela SBY  
Frans Magnis-Suseno, 77, Guru Besar Filsafat di STF Driyarkara Jakarta. ANTARA/Dodo Karundeng

TEMPO.CO, Jakarta - Profesor bidang filsafat, Frans Magnis Suseno, menganggap sudah menjadi kewajiban bagi Dipo Alam selaku sekretaris kabinet untuk membela Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. "Adalah hak Pak Dipo Alam untuk memberikan pendapat, apalagi beliau wajib membela presiden," kata Frans Magnis melalui pesan singkatnya kepada Tempo, Selasa, 21 Mei 2013.

Sekretaris Negara Dipo Alam mengomentari protes yang disampaikan Franz Magnis atas penghargaan World Statesman Award yang bakal diterima SBY dari Appeal of Conscience Foundation (ACF). "Jadi, kata-kata Pak Magniz itu, maaf ya, dia matanya dangkal," kata Dipo di kantor Kepresidenan, Jakarta, Selasa, 21 Mei 2013. "Melihat Indonesia seolah-olah yang hanya ada di TV dengan adanya konflik-konflik begitu."

Frans Magnis melalui surat keberatannya memprotes pemberian penghargaan dari lembaga yang berasal dari New York, Amerika Serikat, itu dengan dua pertimbangan. Pertama, menurut Franz Magnis, SBY selama 8,5 tahun kepemimpinannya tidak pernah menyatakan kepada rakyat Indonesia untuk menghormati minoritas. Kedua, SBY tidak pernah melindungi kelompok yang menjadi korban kekerasan seperti dalam kasus Ahmadiyah dan Syiah yang dicap sesat oleh kelompok aliran keras.

Menurut Frans Magnis, yang terpenting bagi Indonesia adalah mengakui terhadap identitas dan keutuhan kelompok minoritas. BIla penghargaan tetap diberikan kepada SBY, Franz Magnis menganggap hal tersebut mendiskreditkan klaim lembaga ACF yang menyebut diri, organisasi yang mempromosikan perdamaian, demokrasi, toleransi, dan dialog antarkepercayaan.

ISMI DAMAYANTI

Topik Terhangat
Kisruh KJS
| Menkeu Baru | PKS Vs KPK | Vitalia Sesha | Ahmad Fathanah

DUNIA
Terpopuler

Tornado Susulan, Pemerintah Segera Evakuasi Warga

10 WNI Selamat dari Amukan Tornado di Oklahoma

Rekaman Paus Berdoa Usir Setan Dibantah Vatikan

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan