Penyerang Cebongan Anggota Kopassus  

Kamis, 04 April 2013 | 18:01 WIB

Penyerang Cebongan Anggota Kopassus  
Ilustrasi pelaku yang menggedor pintu Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. (ILUSTRASI: TEMPO/INDRA FAUZI)

TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Tim Investigasi TNI Angkatan Darat, Brigadir Jenderal Unggul Yudhoyono, mengatakan, para pelaku penyerangan Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas II B Cebongan, Sleman, Yogyakarta, adalah anggota Kopassus Grup 2 Kartasura. Ada 11 anggota Kopassus terlibat penyerangan tersebut.

"Penyerangan merupakan tindakan reaktif atas kabar terbunuhnya serdadu kepala Santoso," kata Unggul di Media Center TNI Angkatan Darat, Kamis, 4 April 2013.

Unggul menjelaskan, keterlibatan anggota Kopassus diketahui atas pengakuan para pelaku. Kesebelas pelaku mengakui perbuatannya pada hari pertama tim investigasi TNI Angkatan Darat dibentuk.

Dari 11 pelaku, hanya satu orang berinisial U yang bertindak sebagai eksekutor, delapan orang di antaranya mendukung aksi eksekusi, dan dua sisanya mencoba mencegah tindakan rekan-rekannya.

"Pelaku merasa berutang budi pada Santoso karena pernah dibantu saat operasi," kata Unggul. "Para pelaku sangat responsif dan bertanggung jawab, mengakui perbuatannya pada hari pertama investigasi," ujarnya.

Sabtu dinihari dua pekan lalu, Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, Yogyakarta, disatroni belasan orang bersenjata senapan laras panjang, pistol, dan granat. Mereka menerobos gerbang penjara, menahan sipir, dan menembak mati empat tahanan. Keempatnya adalah tersangka pertikaian di Hugo’s Cafe, Sleman, 19 Maret lalu, yang menewaskan Sersan Satu Santoso, anggota Komando Pasukan Khusus.


ANANDA BADUDU

Berita Terkait:

Kasus Cebongan, Ketika Detektif Dunia Maya Beraksi

Malam Jahanam di Cebongan
Polri Curiga Orang Sipil Terlibat Kasus Cebongan

Topik Terhangat:
EDISI KHUSUS Guru Spiritual Selebritas || Serangan Penjara Sleman|| Harta Djoko Susilo|| Nasib Anas



 




Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan