Close

Partai Demokrat Juara Partai Korup

Minggu, 24 Maret 2013 | 13:56 WIB

Partai Demokrat Juara Partai Korup
Sekjen Partai Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas (tengah). TEMPO/Dasril Roszandi

TEMPO.CO, Jakarta - Lembaga Survei Nasional dalam surveinya menempatkan Partai Demokrat sebagai partai paling korup dalam persepsi publik. Sebanyak 70,4 persen publik menilai Demokrat sebagai partai paling korup, disusul Partai Golkar dan Partai Keadilan Sejahtera.

"Persepsi Partai Demokrat sebagai partai terkorup semakin menguat," kata Direktur Eksekutif LSN, Umar S. Bakry, saat pemaparan hasil survei di Jakarta, Ahad, 24 Maret 2013. Dia membantah apa yang disampaikan Sekretaris Kabinet Dipo Alam bahwa Partai Golkar sebagai partai terkorup.

LSN mengadakan survei pada 26 Februari-15 Maret 2013 di 33 provinsi dengan jumlah responden sebanyak 1.230 orang. Survei dilakukan dengan metode teknik pencuplikan rambang berjenjang dan proporsional terhadap jumlah penduduk di setiap provinsi.

Simpangan kesalahan survei sebesar 2,8 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara tatap muka dengan berpedoman pada kuesioner. Survei ini dilengkapi dengan wawancara mendalam dan analisis media.

Dipo sebelumnya menunjukkan angka statistik banyaknya kepala daerah dari Golkar yang ditetapkan sebagai tersangka korupsi. Menurut Umar, publik tidak mengikuti apa yang disampaikan Dipo Alam. Selain itu, kata Umar, tidak semua masyarakat mengikuti pemberitaan di media, termasuk yang disampaikan Dipo.

Umar menyatakan persepsi publik bahwa Partai Demokrat sebagai partai korup terus menguat. Pada survei Oktober 2012, hanya 51,4 persen publik yang menyatakan Demokrat sebagai partai korup. Kini, persepsi publik terhadap partai pemerintah ini semakin anjlok.

Tak heran, tingkat elektabilitas Partai Demokrat, menurut survei LSN, hanya sebesar 4,3 persen. Angka ini jauh dibandingkan tingkat elektabilitas Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Partai Golkar, yaitu sebesar 20,5 persen dan 19,2 persen.

WAYAN AGUS PURNOMO

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan

Berita Terbaru